
Pengantar
Ada sekelompok orang yang tidak mau diimami qiyam Ramadhan (salat tarawih) jika imamnya memakai formasi 4 rakaat sekali salam 4 rakaat sekali salam seperti yang lazim di praktekkan di lingkungan warga Muhammadiyah. Mereka bersikukuh kalau salat malam itu mesti (harus) dua rakat salam dua rakat salam, kalau tidak maka salatnya divonis batal alias tidak sah!
Tampaknya kelompok ini memegang kuat pendapat kalangan Malikiyah yang berpendapat seperti ini seperti dijelaskan penulis kitab Iḥkām al-Aḥkām Sharḥ ‘Umdat al-Aḥkām (211)
Imam Mālik رحمه الله mengambil hadis ini sebagai dalil bahwa salat sunnah tidak boleh ditambah lebih dari dua rakaat. Hal itu tampak jelas dari lafaz hadis tentang salat malam. Ada pula hadis lain: “Salat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat”.
Selain itu, di sebagian kitab Syafi’iyyah juga bisa ditemukan adanya vonis tidak sah ini kalau tarawih dikerjakan 4 rakaat sekali salam seperti kutipan ini.
وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ إنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا ، وَإِلَّا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا ؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ (نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (5/ 360)
“Seandainya seseorang salat empat rakaat dengan satu salam, maka salatnya tidak sah jika dilakukan dengan sengaja dan mengetahui hukumnya. Namun jika dilakukan karena tidak tahu atau lupa, maka salat tersebut berubah menjadi salat sunnah mutlak, karena hal itu menyelisihi tata cara yang disyariatkan.”
Boleh jadi pendapat di atas ditujukan jika mengerjakan tarawih 20 rakaat dengan formasi 4+4+4+4+4+3 karena itu dicap khilaf masyru’, bukan ditujukan tarawih formasi 4+4+3 karena jelas ada hadis Aisyah yang menjelaskan formasi ini.
Sebagian kalangan tidak sampai memvonis batal namun menghukumi makruh jika salat 4 rakaat sekali salam, seperti dikemukakan al-‘Adawi dari mazhab Maliki beriktu ini.
(وَيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ] أَيْ يُنْدَبُ وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُ السَّلَامِ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ فَالْأَفْضَلُ لَهُ السَّلَامُ بَعْدَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ .(حاشية العدوي (3/ 442)
“Disunnahkan (dianjurkan) untuk salam setiap dua rakaat, dan makruh menunda salam hingga setelah empat rakaat. Sehingga, sekalipun seseorang masuk (melaksanakan) empat rakaat dengan satu salam, maka yang lebih utama baginya adalah salam setelah setiap dua rakaat.”
Agar tidak mudah memvonis, perlu di sadari bahwa tata cara Nabi dalam memparaktekkan salat malam itu beragam sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Bani dalam kitab Ṣalāt al-Tarāwīḥ (98) sebagai berikut:
Tentang tata cara salat malam dan witir yang dilakukan Nabi ﷺ:
“Ketahuilah wahai Muslim, bahwa salat malam Nabi ﷺ dan witirnya memiliki banyak bentuk dan cara. Karena hal itu tidak banyak dicatat dalam kitab-kitab fiqh, baik yang ringkas maupun yang panjang, maka wajib bagi kita menjelaskan sunnah beliau ﷺ kepada manusia. Tujuannya agar kita memudahkan jalan bagi siapa saja yang ingin mengikuti sunnah beliau, sehingga ia dapat mengamalkannya dan kita pun mendapat pahala insya Allah. Juga agar orang yang tidak mengetahui hal itu tidak tergesa-gesa mengingkari sesuatu darinya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengikuti beliau ﷺ dengan benar, serta menjauhi apa yang beliau peringatkan berupa bid‘ah. Maka wajiblah bagi kita untuk menjelaskan hal ini, dan aku berkata…”
Dalam pembahasannya, Syaikh Al-Albani termasuk yang mengakui dan membenarkan pelaksanaan qiyam lail/Ramadhan dengan formasi 4+4+3.
Ragam Pandangan Fuqaha`
Sebelumnya mari kita kutip hadis yang dijadikan dasar kelompok yang mengharuskan salat lail mesti dua rakat-dua rakat salam ini.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى ».(صحيح مسلم ـ مشكول وموافق للمطبوع (2/ 171)
Dari Ibn ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā: Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang salat malam. Maka beliau ﷺ bersabda: “Salat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu Subuh, maka ia salat satu rakaat yang menjadikan witir bagi salat yang telah ia lakukan.” (Muttafaq ‘alayh).
Sulaimān bin Nāṣir bin ‘Abdullāh al-‘Alwān, seorang ulama asal Arab Saudi menjelaskan dalam kitabnya Ahkam Qiyam al-Lail halaman 19 sebagai berikut:
وحديث ابن عمر (( صلاة الليل مثنى مثنى )) لا يدل على وجوب التسليم في كل ركعتين ولفظه لا يساعد على ذلك فيحمل على الاستحباب وأنه الأكثر استعمالاً. وغيره من الأحاديث تحمل على السنية في بعض الأحيان ، والعبادات الواردة على وجوه متنوعة يعمل بها كلها وهذا أفضل من المداومة على نوع وهجر غيره فإن هدي النبي صلى الله عليه وسلم عمل الأمرين على أن المداومة على نوع مراعاة للمصلحة ودرءاً للمفسدة قد تكون أفضل في وقت دون آخر كما أن المفضول يكون فاضلاً وهذا أمر عام في كل العبادات الواردة على هذا الوجه والقول الجامع فيها مراعاة المصالح وهذا يختلف باختلاف الأحوال والبلاد والأشخاص والله أعلم .)أحكام قيام الليل (ص: 19)
Hadis Ibn ‘Umar: “Salat malam itu dua rakaat-dua rakaat” tidak menunjukkan kewajiban salam setiap dua rakaat. Lafaz hadis itu sendiri tidak mendukung pemahaman demikian, sehingga dipahami sebagai anjuran (istihbab) dan bahwa hal itu adalah yang paling sering dilakukan. Adapun hadis-hadis lain dipahami sebagai menunjukkan kesunnahan pada sebagian keadaan.
Ibadah-ibadah yang datang dengan bentuk yang beragam sebaiknya diamalkan semuanya. Hal ini lebih utama daripada terus-menerus berpegang pada satu bentuk dan meninggalkan bentuk lainnya. Sesungguhnya tuntunan Nabi ﷺ adalah melakukan kedua cara tersebut. Namun, terkadang konsistensi pada satu bentuk tertentu, demi menjaga kemaslahatan dan menolak kemudaratan, bisa lebih utama pada waktu tertentu dibanding waktu lain. Bahkan sesuatu yang secara umum kurang utama bisa menjadi lebih utama dalam kondisi tertentu.
Selanjutnya Imam ash-Shan’ani dalam Subulus Salam menjelaskan :
الحديث دليل على مشروعية نافلة الليل مثنى مثنى، فيسلم على كل ركعتين. وإليه ذهب جماهير العلماء، وقال مالك: لا تجوز الزيادة على اثنتين لأن مفهوم الحديث الحصر، لأنه في قوة ما صلاة الليل إلا مثنى مثنى لأن تعريف المبتدأ قد يفيد ذلك على الأغلب، وأجاب الجمهور بأن الحديث وقع جواباً لمن سأل عن صلاة الليل فلا دلالة فيه على الحصر، وبأنه لو سلم فقد عارضه فعله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم وهو ثبوت إيتاره بخمس، كما في حديث عائشة عند الشيخين والفعل قرينة على عدم إرادة الحصر.سبل السلام (2/ 7)
Hadis ini menjadi dalil disyariatkannya salat sunnah malam dengan dua rakaat-dua rakaat, yaitu salam setiap dua rakaat. Inilah pendapat mayoritas ulama. Imam Mālik berkata: tidak boleh menambah lebih dari dua rakaat, karena mafhum hadis menunjukkan pembatasan. Seakan-akan maknanya: “Tidak ada salat malam kecuali dua rakaat-dua rakaat.” Sebab, definisi mubtada’ yang dibatasi dalam khabar biasanya menunjukkan hal itu.
Namun mayoritas ulama menjawab: hadis ini merupakan jawaban atas pertanyaan tentang salat malam, sehingga tidak menunjukkan pembatasan. Selain itu, jika memang menunjukkan pembatasan, maka bertentangan dengan perbuatan Nabi ﷺ yang terbukti berwitir dengan lima rakaat sekaligus, sebagaimana dalam hadis ‘Ā’isyah yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim. Perbuatan Nabi ﷺ ini menjadi bukti bahwa hadis tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi.(Subul al-Salām (2/7)
Dari penjelasan tersebut di atas, mayoritas ulama tidak memaknai hadis Ibnu Umar sebagai sebuah pembatasan kalau salat malam mesti dua rakaat salam, karena telah sahih Nabi salat malam (witr) dengan 3,5,7,9 rakaat dengan sekali salam.
Selanjutnya mari kita ikuti penjelasan Imam al-Mawardi salah satu fakih mazhab Syafi’i di bawah ini.
الْقَوْلُ فِي كَيْفِيَّةِ قِيَامِ اللَّيْلِ الْأَفْضَلُ فِي نَوَافِلِ اللَّيْلِ ، وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى ، يَقْطَعُ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ ، بِسَلَامٍ ، ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ مَا بَعْدَهُمَا بِإِحْرَامٍ ، وَأَيَّ عَدَدٍ صَلَّى بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ أَجْزَأَهُ ، وَلَا يُكْرَهُ . وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ : الْأَفْضَلُ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَرْبَعًا بِسَلَامٍ ، وَآكَدُهُ أَنْ يَزِيدَ فِي النَّهَارِ عَلَى أَرْبَعٍ ، وَفِي اللَّيْلِ عَلَى ثَمَانٍ تَعَلُّقًا بِرِوَايَةِ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَا يُسَلِّمُ فِيهِنَّ إِلَّا بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ يُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَبِمَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ النَّبِيَّ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ لَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ .الحاوي الكبير للماوردي ـ ط الفكر (2/ 659)
Pembahasan tentang cara salat malam yang paling utama:
Dalam salat sunnah malam maupun siang, yang lebih utama adalah dua rakaat-dua rakaat, yaitu setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, lalu memulai rakaat berikutnya dengan takbiratul ihram. Namun, jika seseorang salat dengan jumlah rakaat berapa pun dalam satu salam, maka tetap sah dan tidak makruh.
Pendapat Abū Ḥanīfah: Yang lebih utama dalam salat sunnah malam maupun siang adalah empat rakaat dengan satu salam. Bahkan lebih ditekankan untuk menambah rakaat di siang hari lebih dari empat, dan di malam hari lebih dari delapan.
Dalilnya: riwayat dari Abū Ayyūb al-Anṣārī bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Empat rakaat sebelum Zuhur dengan satu salam, maka dibukakan pintu-pintu langit untuknya.” Juga riwayat dari ‘Ā’isyah raḍiyallāhu ‘anhā bahwa Nabi ﷺ salat malam delapan rakaat dengan satu salam di akhir. (al-Ḥāwī al-Kabīr (2/659))
Al-Mawardi hanya menyatakan salat malam dan siang utamanya dengan dua rakaat sekali salam, namun ia juga menegaskan jika lebih dari dua raakat sekali salam salatnya tetap sah dan tidak makruh.
Lebih lanjut Syaikh ‘Abdullāh bin ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām lewat Taysīr al-‘Allām Sharḥ ‘Umdat al-Aḥkām (1/192) menjelaskan :
أما أقوال الأئمة في ذلك، فالإمام أحمد أجاز الزيادة في النافلة إلى أربع لهذا الحديث. والشافعي أجاز الزيادة بلا حد، ومالك لم يجز الزيادة على ركعتين ) تيسير العلام شرح عمدة الحكام- للبسام (1/ 192)
Adapun pendapat para imam mengenai hal ini (salat lail berapa rakaat salam):
- Imam Aḥmad membolehkan penambahan rakaat dalam salat sunnah hingga empat rakaat.
- Imam al-Shāfi‘ī membolehkan penambahan tanpa batasan jumlah.
- Imam Mālik tidak membolehkan penambahan lebih dari dua rakaat.
Pembahasan agak panjang dikemukakan oleh Syaikh Sulaymān ibn Nāṣir ibn ‘Abdillāh al-‘Alwān dalam kitab ahkam qiyam al-lail mulai halaman 17 sebagai berikut
Masalah ketiga: (tentang tata cara shalat malam) Imam Mālik, al-Syāfi‘ī, Ahmad, dan sekelompok salaf berpendapat bahwa shalat malam itu dilakukan dua rakaat-dua rakaat, kecuali witir yang satu rakaat. Mereka berbeda pendapat apakah hal itu wajib atau hanya sunnah. Dalil mereka adalah hadis sahih dari Ibn ‘Umar, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang shalat malam, maka beliau bersabda: “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu subuh, maka hendaklah ia shalat satu rakaat yang menjadikan witir bagi apa yang telah ia shalat.”
Ungkapan “dua rakaat-dua rakaat” maksudnya adalah salam setiap dua rakaat, ada yang mengatakan wajib, ada yang mengatakan sunnah. Dalam kitab al-Mubdi‘ disebutkan: jika ditambah lebih dari itu, maka menurut Ibn Syihāb dan penulis kitab, tidak sah. Imam Ahmad berkata tentang orang yang berdiri pada rakaat ketiga dalam tarawih: hendaklah ia kembali meskipun sudah membaca, karena harus ada salam, dan itu wajib, berdasarkan hadis. Riwayat lain darinya: sah tetapi makruh, dan ini yang masyhur, baik ia sadar jumlah rakaat atau lupa. Riwayat lain darinya: tidak makruh.
Adapun menurut Abū Hanīfah, beliau berkata tentang shalat malam: “Jika engkau mau dua rakaat, jika mau empat, jika mau enam, jika mau delapan, dan tidak perlu salam kecuali di akhir.” Yang lebih utama dalam mazhabnya adalah shalat empat rakaat dengan satu salam, berdasarkan hadis ‘Āisyah dalam Shahihain ketika Abū Salamah bin ‘Abd al-Rahmān bertanya tentang shalat Nabi ﷺ di malam hari, ia menjawab: “Beliau shalat empat rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga rakaat.”
Hadis ini bersifat umum, tidak secara tegas menyebutkan bahwa empat rakaat itu dengan satu salam. Ada kemungkinan bahwa shalat malam dilakukan satu rakaat, namun saya lebih condong pada empat rakaat dengan satu salam, mengikuti makna lahiriah hadis, kecuali ada dalil yang jelas yang mengeluarkannya dari itu. Adapun hadis Ibn ‘Umar “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat” tidak menunjukkan kewajiban salam setiap dua rakaat, karena lafaznya tidak mendukung hal itu. Maka hadis tersebut dipahami sebagai anjuran (sunnah), dan itulah yang lebih banyak diamalkan. Hadis-hadis lain juga menunjukkan kesunnahan dalam sebagian keadaan.
Ibadah yang datang dengan bentuk yang beragam, sebaiknya diamalkan semuanya. Itu lebih utama daripada terus-menerus pada satu bentuk dan meninggalkan bentuk lainnya. Karena petunjuk Nabi ﷺ adalah melakukan kedua cara. Namun terkadang konsistensi pada satu bentuk demi maslahat dan menghindari mudarat bisa lebih utama pada waktu tertentu. Sehingga sesuatu yang secara umum lebih rendah bisa menjadi lebih utama dalam kondisi tertentu. Ini berlaku umum pada semua ibadah yang datang dengan bentuk beragam. Kesimpulan umumnya adalah memperhatikan maslahat, dan ini berbeda-beda sesuai keadaan, negeri, dan orang.
Tentang apakah ada tasyahhud pada dua rakaat, atau shalat empat rakaat dengan satu tasyahhud saja: tidak ada dalil yang jelas. Yang tampak adalah adanya pilihan. Jika mau, ia shalat empat rakaat dengan satu tasyahhud, jika mau ia bertasyahhud dua kali, namun salamnya hanya di akhir.
Adapun shalat witir: boleh witir dengan satu rakaat, berdasarkan hadis Ibn ‘Umar sebelumnya: “Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk subuh, maka shalatlah satu rakaat yang menjadikan witir bagi apa yang telah ia shalat” (muttafaq ‘alaih). Dalam riwayat Muslim dari jalur Syu‘bah, dari Qatādah, dari Abī Majliz, ia berkata: aku mendengar Ibn ‘Umar meriwayatkan dari Nabi ﷺ: “Witir itu satu rakaat di akhir malam.” Jika sebelumnya ia shalat genap (syaf‘), itu lebih utama.
Ia juga boleh witir dengan tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat. Namun jika witir dengan tiga, tidak bertasyahhud dua kali, cukup sekali di akhir. Sunnah juga bagi yang shalat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan, lalu duduk, berzikir, memuji Allah, dan berdoa, kemudian bangkit tanpa salam, lalu shalat rakaat kesembilan, kemudian salam. Hadis ini terdapat dalam Shahih Muslim dari ‘Āisyah. Dalam hadis itu disebutkan bahwa Nabi ﷺ setelah salam, shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Melakukan variasi dalam bentuk-bentuk ini lebih utama, sebagai bentuk menjaga sunnah dan mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.
Di kalangan mazahb Hanafi juga ada perbedaan pendapat sbegaiman dijelaskan oleh Imam ‘Alā’ al-Dīn Abū Bakr ibn Mas‘ūd al-Kāsānī al-Ḥanafī (w. 587 H/1191 M) dalam Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘ fī Tartīb al-Sharā’i‘ (3/178) di bawah ini.
وأما في الليل فأربع أربع في قول أبي حنيفة ، وعند أبي يوسف ومحمد مثنى مثنى وهو قول الشافعي احتجا بما روى ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال { صلاة الليل مثنى مثنى وبين كل ركعتين فسلم } أمر بالتسليم على رأس الركعتين وما أراد به الإيجاب ؛ لأنه غير واجب فتعين الاستحباب مرادا به ؛ ولأن عمل الأمة في التراويح فظهر مثنى مثنى من لدن عمر رضي الله عنه إلى يومنا هذا فدل أن ذلك أفضل ،)بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع (3/ 178)
“Adapun shalat malam, menurut Abū Ḥanīfah dilakukan empat rakaat-empat rakaat. Sedangkan menurut Abū Yūsuf dan Muḥammad, dilakukan dua rakaat-dua rakaat, dan ini juga pendapat al-Shāfi‘ī. Mereka berdalil dengan riwayat dari Ibn ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: ‘Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, dan di antara setiap dua rakaat hendaklah salam.’ Beliau memerintahkan salam pada setiap dua rakaat. Namun yang dimaksud bukanlah kewajiban, karena salam itu tidak wajib, maka yang dimaksud adalah anjuran. Dan karena praktik umat Islam dalam shalat tarawih sejak zaman ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhu hingga hari ini adalah dua rakaat-dua rakaat, maka hal itu menunjukkan bahwa cara tersebut lebih utama.”
Teks ini menjelaskan perbedaan pendapat ulama Hanafiyyah:
- Abū Ḥanīfah: shalat malam boleh empat rakaat sekaligus.
- Abū Yūsuf & Muḥammad (murid Abū Ḥanīfah): dua rakaat-dua rakaat, sesuai hadis Ibn ‘Umar.
- Al-Shāfi‘ī: sejalan dengan pendapat Abū Yūsuf dan Muḥammad.
- Dalil utama: hadis Nabi ﷺ dan praktik umat Islam dalam tarawih sejak masa ‘Umar bin al-Khaṭṭāb.
Jadi kebanyakan ulama tidak menjadikan hadis iBnu Umar di atas sebagai sebuah keharusan kala salat malam mesti dua salam dua salam, perhatikan penegasan Syaikh Muḥammad ibn ‘Alī ibn Ādam ibn Mūsā al-Ityūbī al-Wallawī dalam kitab Dhakhīrat al-‘Uqbā fī Sharḥ al-Mujtabā (syarah atas Sunan al-Nasā’ī al-Mujtabā) salah satu syarah hadis paling lengkap atas Sunan al-Nasā’ī berikut ini :
وحمله الجمهور على أنه لبيان الأفضل، لما صحّ من فعله – صلى اللَّه عليه وسلم – بخلافه، ولم يتعيّن أيضًا كونه لذلك، بل يحتمل أن يكون للإرشاد إلى الأخفّ، إذ السلام بين كلّ ركعتين أخفّ على المصلي من الأربع، فما فوقها, لما فيه من الراحة غالبًا، وقضاء ما يَعرض من أمر مهمّ، ولو كان الوصل لبيان الجواز فقط لم يواظب عليه النبي – صلى اللَّه عليه وسلم -، ومن ادعى اختصاصه به، فعليه البيان، وقد صحّ عنه – صلى اللَّه عليه وسلم – الفصل، كما صحّ عنه الوصل، فعند أبي داود، ومحمد بن نصر من طريقي الأوزاعيّ وابن أبي ذئب، كلاهما عن الزهريّ، عن عروة، عن عائشة – رضي اللَّه عنه -: “أن النبي – صلى اللَّه عليه وسلم – كان يصلي ما بين أن يفرغ من العشاء إلى الفجر إحدى عشرة ركعة، يسلّم من كلّ ركعتين”، وإسنادهما على شرط الشيخين.)ذخيرة العقبى في شرح المجتبى (18/ 16)
“Mayoritas ulama memahaminya sebagai penjelasan tentang yang lebih utama, karena telah sahih bahwa Nabi ﷺ melakukan hal yang berbeda darinya. Namun, tidak mesti harus dipahami demikian, sebab bisa jadi maksudnya adalah memberi petunjuk kepada yang lebih ringan, karena salam setiap dua rakaat lebih ringan bagi orang yang shalat dibandingkan empat rakaat atau lebih, sebab di dalamnya terdapat istirahat pada umumnya, serta kesempatan untuk menyelesaikan urusan penting yang mungkin muncul. Seandainya penyambungan (tanpa salam) hanya sekadar untuk menunjukkan kebolehan, niscaya Nabi ﷺ tidak akan terus-menerus melakukannya. Barangsiapa mengklaim bahwa hal itu khusus bagi beliau, maka ia wajib memberikan dalil. Telah sahih dari Nabi ﷺ adanya pemisahan, sebagaimana sahih pula darinya adanya penyambungan. Maka dalam riwayat Abu Dawud dan Muhammad bin Nashr, dari dua jalur: al-Awzā‘ī dan Ibn Abī Dhīb, keduanya dari al-Zuhrī, dari ‘Urwah, dari ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā: “Bahwa Nabi ﷺ biasa shalat antara selesai ‘Isyā hingga fajar sebanyak sebelas rakaat, beliau salam setiap dua rakaat.” Kedua sanadnya sesuai dengan syarat al-Bukhārī dan Muslim.”
Selanjutnya kita kutip beberapa hadis fikli Nabi bahwa beliau berwitir lebih dari 1 rakaat dengan satu salam artinya beliau memberi contoh tidak mesti dua rakaat salam.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ.)السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (3/ 28)
Dari ‘Ā’isyah berkata: “Rasulullah ﷺ berwitir dengan tiga rakaat, dan beliau tidak duduk (tasyahhud) kecuali pada rakaat terakhir.”(Al-Sunan al-Kubrā karya al-Bayhaqī, dengan syarah al-Jawhar al-Naqī (3/28)
عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَتْ صَلاَتُهُ مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُوتِرُ بِخَمْسٍ ، وَلاَ يُسَلِّمُ فِى شَىْءٍ مِنَ الْخَمْسِ حَتَّى يَجْلِسَ فِى الآخِرَةِ يُسَلِّمُ.)السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (3/ 27)
Dari ‘Ā’isyah: “Sesungguhnya salat malam Rasulullah ﷺ adalah tiga belas rakaat. Beliau berwitir dengan lima rakaat, dan tidak salam pada satu pun dari lima rakaat itu hingga beliau duduk pada rakaat terakhir, lalu salam.”
Teks ini menegaskan bahwa Nabi ﷺ kadang berwitir dengan lima rakaat sekaligus tanpa salam di antara rakaat-rakaatnya, hanya salam di akhir. Ini menjadi salah satu dalil bahwa tata cara witir itu bervariasi, dan semua bentuk yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ adalah sunnah yang sah untuk diamalkan. (Al-Sunan al-Kubrā karya al-Bayhaqī, dengan syarah al-Jawhar al-Naqī (3/27)
Lebih lanjut silakan baca hadis hadis witir dari 1 rakaat sampai 9 rakaat lihat kitab Ibnu al-Kharrath dalam al-Ahkam al-Kubra juz II halaman 355 dan seterusnya.
Seterusnya kita kutip penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Juz II halaman 479.
واستدل بهذا على تعين الفصل بين كل ركعتين من صلاة الليل قال بن دقيق العيد وهو ظاهر السياق لحصر المبتدأ في الخبر وحمله الجمهور على أنه لبيان الأفضل لما صح من فعله صلى الله عليه و سلم بخلافه ولم يتعين أيضا كونه لذلك بل يحتمل أن يكون للارشاد إلى الأخف إذ السلام بين كل ركعتين أخف على المصلي من الأربع فما فوقها لما فيه من الراحة غالبا وقضاء ما يعرض من أمر مهم ولو كان الوصل لبيان الجواز فقط لم يواظب عليه صلى الله عليه و سلم ) فتح الباري – ابن حجر (2/ 479)
Sebagian ulama berargumentasi bahwa hadis ini (hadis Ibnu Umar salat malam dua dua) menunjukkan keharusan salam setiap dua rakaat salat malam. Ibn Daqīq al-‘Īd berkata: ‘Hal ini tampak dari susunan lafaz, karena mubtada’ dibatasi dalam khabar.’ Namun mayoritas ulama memahaminya sebagai penjelasan tentang yang lebih utama, karena sahih riwayat Nabi ﷺ melakukan cara lain. Tidak mesti dipahami demikian, bisa juga sebagai bimbingan agar lebih ringan, sebab salam setiap dua rakaat lebih ringan bagi orang salat dibanding empat rakaat sekaligus, karena memberi jeda istirahat dan kesempatan menyelesaikan urusan penting. Seandainya penyambungan rakaat hanya untuk menunjukkan kebolehan, Nabi ﷺ tidak akan melakukannya terus-menerus.
Al-‘Aini dalam Sharḥ Abī Dāwūd – al-‘Aynī (5/232) menegaskan sahnya salat 4 rakaat sekaligus:
ش- استدل به أبو يوسف ومحمد، والشافعي، ومالك، وأحمد أن صلاة الليل مثنى مثنى، وهو أن يسلم في كل ركعتين. وهذا الحديث ونحوه محمول على بيان الأفضل ولو صلى أربعا بتسليمة جاز) شرح أبي داود للعيني (5/ 232)
“Abū Yūsuf, Muḥammad, al-Shāfi‘ī, Mālik, dan Aḥmad berdalil dengan hadis ini bahwa salat malam itu dua rakaat-dua rakaat, yaitu dengan salam setiap dua rakaat. Hadis ini dan yang semisalnya dipahami sebagai penjelasan tentang yang lebih utama. Namun, jika seseorang salat empat rakaat sekaligus dengan satu salam, maka hal itu tetap sah.”
Ringkasnya:
- Mayoritas imam mazhab (kecuali sebagian pendapat Hanafiyyah) memahami hadis “ṣalāt al-layl mathnā mathnā” sebagai anjuran salam setiap dua rakaat, bukan kewajiban.
- Hikmahnya: salam setiap dua rakaat lebih ringan dan memberi kesempatan istirahat.
- Namun, menyambung empat rakaat sekaligus tetap boleh, hanya saja bukan bentuk yang paling utama.
Dalam kitab Minḥat al-‘Allām Sharḥ Bulūgh al-Marām (234) karya ‘Abdullāh ibn Ṣāliḥ al-Fawzān diterangkan:
وقد أخذ العلماء ومنهم مالك بحديث الباب مستدلاً به على تَعَيُّنِ الفصل بين كل ركعتين من صلاة الليل، لأن هذا ظاهر السياق، لحصر المبتدأ في الخبر، فهو في قوة: ما صلاة الليل إلا مثنى مثنى، لكن يرد على ذلك فعل النبي صلّى الله عليه وسلّم كما سيأتي، وذهب الجمهور من أهل العلم إلى أن ذلك لا يلزم، وإنما الحديث لبيان الأفضل، لما سيأتي من فعله صلّى الله عليه وسلّم بخلافه، أو يقال: إنه مراد به الإرشاد إلى الأخف، لأن السلام من كل ركعتين أخف على المصلي من الأربع فما فوقها، لما فيه من الراحة غالباً، وقضاءِ ما يعرض من أمر مهم، ولو كان الوصل لبيان الجواز فقط لما واظب عليه الرسول صلّى الله عليه وسلّم، وقد صح عنه الفصل والوصل.منحة العلام شرح بلوغ المرام لعبدالله الفوزان (ص: 234)
Para ulama, termasuk Mālik, berdalil dengan hadis ini bahwa wajib ada pemisahan (salam) setiap dua rakaat dalam salat malam. Hal itu karena susunan lafaz hadis menunjukkan pembatasan mubtada’ dalam khabar, sehingga seakan-akan maknanya: “Tidak ada salat malam kecuali dua rakaat-dua rakaat.”
Namun, hal ini ditentang oleh perbuatan Nabi ﷺ sebagaimana akan disebutkan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu tidak wajib, melainkan hadis tersebut hanya untuk menjelaskan yang lebih utama. Sebab, telah sah riwayat perbuatan Nabi ﷺ yang berbeda dengan hal itu. Ada juga yang mengatakan bahwa maksud hadis tersebut adalah bimbingan menuju yang lebih ringan, karena salam setiap dua rakaat lebih ringan bagi orang yang salat dibanding empat rakaat sekaligus atau lebih, sebab memberi kesempatan istirahat dan menyelesaikan urusan penting. Seandainya penyambungan rakaat hanya untuk menunjukkan kebolehan, tentu Nabi ﷺ tidak akan melakukannya secara terus-menerus. Riwayat sahih menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melakukan keduanya: kadang salam setiap dua rakaat, kadang menyambung rakaat.
Penutup
Memahami hadis salat malam dua-dua ada ulama yang memahami salat malam harus dilakukan dua rakat salam dua rakat salam, ini dipegang oleh Imam Malik dan yang sepaham. Sedang mayoritas ulama memahami salat malam utamanya dilakukan dua rakat salam dua rakat salam bukan sebuah keharusan kalau salat malam mesti dua rakat sekali salam. Jika ada yang bersalam 4 rakaat sekali salam tetap sah dan tidak makruh.
Sikap bijak adalah tidak memutlakkan pendapat sendiri dengan menafikan pemahaman lain. Tidak perlu gampang memvonis tata cara ibadah orang lain dengan label salah karena sejatinya mereka juga mempunya hujjah dan argumen yang boleh jadi belum sempat kita pelajari.
Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari (زكريا الأنصاري) salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i penulis kitab fikih terkenal Asna al-Mathalib fi Syarh Raudhatu ath-Thalib menjelaskan dalam Fatḥ al-‘Allām bi Sharḥ al-I‘lām bi Aḥādīth al-Aḥkām sebagai berikut.
وفيه أن كل أربع منها بتسليم واحد والثلاث الأخيرة بتسليم واحد وهو جائز وإن كان الأفضل لنا أن كل ثنتين بتسليم واحد، لخبر صلاة الليل مثنى مثنى مع زيادة تعدد السلام.)فتح العلام بشرح الإعلام بأحاديث الأحكام (ص: 236)
“Di dalamnya (hadis Aisyah 4+4+3) tersebut) terdapat penjelasan bahwa setiap empat rakaat dilakukan dengan satu salam, dan tiga rakaat terakhir juga dengan satu salam. Hal itu boleh dilakukan, meskipun yang lebih utama bagi kita adalah setiap dua rakaat dengan satu salam, berdasarkan hadis ‘Salat malam itu dua rakaat-dua rakaat’ dengan tambahan penjelasan adanya salam berulang.”
Jadi walaupun beliau bermazhab Syafi’I, dengan lugas mengatakan salat 4 4 3 boleh dilakukan dengan sekali salam, walau yang utama menurut beliau tetap bersalam setiap dua rakaat. Beliau tidak mengatakan salat 4 rakaat sekali salam itu tidak sah.
Majelis Tarjih sendiri mempersilakan warga persyarikatan untuk memilih formasi 443 atau 22223 atau 222221, juga menganjurkan membuka atau mengawali qiyam Ramadhan dengan dua rakaat yang ringan.
Selanjutnya mari kita isi bulan Ramadhan ini dengan qiyam Ramadhan tanpa meributkan hal-hal yang tidak urgen seperti masalah jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaannya, lakukan yang kita yakini kuat dan benar tanpa mudah menyalahkan pemahaman yang berbeda. Wallahu a’lam.




