IbadahTuntunan

Qiyam Ramadhan Haruskah Dua Rakaat Sekali Salam?

Oleh : Dr. H. Ali Trigiyatno, M.Ag (Ketua MT PWM Jateng)

๐Ÿ“… Ahad, 12 April 2026 | 24 Syawal 1447 H

Pengantar

Ada sekelompok orang yang tidak mau diimami qiyam Ramadhan (salat tarawih) jika imamnya memakai formasi 4 rakaat sekali salam 4 rakaat sekali salam seperti yang lazim di praktekkan di lingkungan warga Muhammadiyah. Mereka bersikukuh kalau salat malam itu mesti (harus) dua rakat salam dua rakat salam, kalau tidak maka salatnya divonis batal alias tidak sah!

Tampaknya kelompok ini memegang kuat pendapat kalangan Malikiyah yang berpendapat seperti ini seperti dijelaskan penulis kitab Iแธฅkฤm al-Aแธฅkฤm Sharแธฅ โ€˜Umdat al-Aแธฅkฤm (211)

Imam Mฤlik ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ mengambil hadis ini sebagai dalil bahwa salat sunnah tidak boleh ditambah lebih dari dua rakaat. Hal itu tampak jelas dari lafaz hadis tentang salat malam. Ada pula hadis lain: โ€œSalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaatโ€.

Selain itu, di sebagian kitab Syafiโ€™iyyah juga bisa ditemukan adanya vonis tidak sah ini kalau tarawih dikerjakan 4 rakaat sekali salam seperti kutipan ini.

ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ุจูุชูŽุณู’ู„ููŠู…ูŽุฉู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุตูุญู‘ูŽ ุฅู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽุงู…ูุฏู‹ุง ุนูŽุงู„ูู…ู‹ุง ุŒ ูˆูŽุฅูู„ู‘ูŽุง ุตูŽุงุฑูŽุชู’ ู†ูŽูู’ู„ู‹ุง ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุง ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฎูู„ูŽุงูู ุงู„ู’ู…ูŽุดู’ุฑููˆุนู (ู†ู‡ุงูŠุฉ ุงู„ู…ุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุดุฑุญ ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ (5/ 360)

โ€œSeandainya seseorang salat empat rakaat dengan satu salam, maka salatnya tidak sah jika dilakukan dengan sengaja dan mengetahui hukumnya. Namun jika dilakukan karena tidak tahu atau lupa, maka salat tersebut berubah menjadi salat sunnah mutlak, karena hal itu menyelisihi tata cara yang disyariatkan.โ€

Boleh jadi pendapat di atas ditujukan jika mengerjakan tarawih 20 rakaat dengan formasi 4+4+4+4+4+3 karena itu dicap khilaf masyruโ€™, bukan ditujukan tarawih formasi 4+4+3 karena jelas ada hadis Aisyah yang menjelaskan formasi ini.

Sebagian kalangan tidak sampai memvonis batal namun menghukumi makruh jika salat 4 rakaat sekali salam, seperti dikemukakan al-โ€˜Adawi dari mazhab Maliki beriktu ini.

(ูˆูŽูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู ู…ูู†ู’ ูƒูู„ู‘ู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ] ุฃูŽูŠู’ ูŠูู†ู’ุฏูŽุจู ูˆูŽูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู ุชูŽุฃู’ุฎููŠุฑู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู„ูŽูˆู’ ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ุจูุชูŽุณู’ู„ููŠู…ูŽุฉู ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ููŽุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู„ูŽู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ูƒูู„ู‘ู ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู .(ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุนุฏูˆูŠ (3/ 442)

โ€œDisunnahkan (dianjurkan) untuk salam setiap dua rakaat, dan makruh menunda salam hingga setelah empat rakaat. Sehingga, sekalipun seseorang masuk (melaksanakan) empat rakaat dengan satu salam, maka yang lebih utama baginya adalah salam setelah setiap dua rakaat.โ€

Agar tidak mudah memvonis, perlu di sadari bahwa tata cara Nabi dalam memparaktekkan salat malam itu beragam sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Bani dalam kitab แนขalฤt al-Tarฤwฤซแธฅ (98) sebagai berikut:

Tentang tata cara salat malam dan witir yang dilakukan Nabi ๏ทบ:

โ€œKetahuilah wahai Muslim, bahwa salat malam Nabi ๏ทบ dan witirnya memiliki banyak bentuk dan cara. Karena hal itu tidak banyak dicatat dalam kitab-kitab fiqh, baik yang ringkas maupun yang panjang, maka wajib bagi kita menjelaskan sunnah beliau ๏ทบ kepada manusia. Tujuannya agar kita memudahkan jalan bagi siapa saja yang ingin mengikuti sunnah beliau, sehingga ia dapat mengamalkannya dan kita pun mendapat pahala insya Allah. Juga agar orang yang tidak mengetahui hal itu tidak tergesa-gesa mengingkari sesuatu darinya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengikuti beliau ๏ทบ dengan benar, serta menjauhi apa yang beliau peringatkan berupa bidโ€˜ah. Maka wajiblah bagi kita untuk menjelaskan hal ini, dan aku berkataโ€ฆโ€

Dalam pembahasannya, Syaikh Al-Albani termasuk yang mengakui dan membenarkan pelaksanaan qiyam lail/Ramadhan dengan formasi 4+4+3.

Ragam Pandangan Fuqaha`

Sebelumnya mari kita kutip hadis yang dijadikan dasar kelompok yang mengharuskan salat lail mesti dua rakat-dua rakat salam ini.

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ุณูŽุฃูŽู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุนูŽู†ู’ ุตูŽู„ุงูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ยซ ุตูŽู„ุงูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ู…ูŽุซู’ู†ูŽู‰ ู…ูŽุซู’ู†ูŽู‰ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุดูู‰ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹ ุชููˆุชูุฑู ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ยป.(ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… ู€ ู…ุดูƒูˆู„ ูˆู…ูˆุงูู‚ ู„ู„ู…ุทุจูˆุน (2/ 171)

Dari Ibn โ€˜Umar raแธiyallฤhu โ€˜anhumฤ: Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ๏ทบ tentang salat malam. Maka beliau ๏ทบ bersabda: โ€œSalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu Subuh, maka ia salat satu rakaat yang menjadikan witir bagi salat yang telah ia lakukan.โ€ (Muttafaq โ€˜alayh).

Sulaimฤn bin Nฤแนฃir bin โ€˜Abdullฤh al-โ€˜Alwฤn, seorang ulama asal Arab Saudi menjelaskan dalam kitabnya Ahkam Qiyam al-Lail halaman 19 sebagai berikut:

ูˆุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนู…ุฑ (( ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ )) ู„ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุชุณู„ูŠู… ููŠ ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู† ูˆู„ูุธู‡ ู„ุง ูŠุณุงุนุฏ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ููŠุญู…ู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณุชุญุจุงุจ ูˆุฃู†ู‡ ุงู„ุฃูƒุซุฑ ุงุณุชุนู…ุงู„ุงู‹. ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุชุญู…ู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุณู†ูŠุฉ ููŠ ุจุนุถ ุงู„ุฃุญูŠุงู† ุŒ ูˆุงู„ุนุจุงุฏุงุช ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ุนู„ู‰ ูˆุฌูˆู‡ ู…ุชู†ูˆุนุฉ ูŠุนู…ู„ ุจู‡ุง ูƒู„ู‡ุง ูˆู‡ุฐุง ุฃูุถู„ ู…ู† ุงู„ู…ุฏุงูˆู…ุฉ ุนู„ู‰ ู†ูˆุน ูˆู‡ุฌุฑ ุบูŠุฑู‡ ูุฅู† ู‡ุฏูŠ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู…ู„ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู† ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ู…ุฏุงูˆู…ุฉ ุนู„ู‰ ู†ูˆุน ู…ุฑุงุนุงุฉ ู„ู„ู…ุตู„ุญุฉ ูˆุฏุฑุกุงู‹ ู„ู„ู…ูุณุฏุฉ ู‚ุฏ ุชูƒูˆู† ุฃูุถู„ ููŠ ูˆู‚ุช ุฏูˆู† ุขุฎุฑ ูƒู…ุง ุฃู† ุงู„ู…ูุถูˆู„ ูŠูƒูˆู† ูุงุถู„ุงู‹ ูˆู‡ุฐุง ุฃู…ุฑ ุนุงู… ููŠ ูƒู„ ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ูˆุฌู‡ ูˆุงู„ู‚ูˆู„ ุงู„ุฌุงู…ุน ููŠู‡ุง ู…ุฑุงุนุงุฉ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ูˆู‡ุฐุง ูŠุฎุชู„ู ุจุงุฎุชู„ุงู ุงู„ุฃุญูˆุงู„ ูˆุงู„ุจู„ุงุฏ ูˆุงู„ุฃุดุฎุงุต ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… .)ุฃุญูƒุงู… ู‚ูŠุงู… ุงู„ู„ูŠู„ (ุต: 19)

Hadis Ibn โ€˜Umar: โ€œSalat malam itu dua rakaat-dua rakaatโ€ tidak menunjukkan kewajiban salam setiap dua rakaat. Lafaz hadis itu sendiri tidak mendukung pemahaman demikian, sehingga dipahami sebagai anjuran (istihbab) dan bahwa hal itu adalah yang paling sering dilakukan. Adapun hadis-hadis lain dipahami sebagai menunjukkan kesunnahan pada sebagian keadaan.

Ibadah-ibadah yang datang dengan bentuk yang beragam sebaiknya diamalkan semuanya. Hal ini lebih utama daripada terus-menerus berpegang pada satu bentuk dan meninggalkan bentuk lainnya. Sesungguhnya tuntunan Nabi ๏ทบ adalah melakukan kedua cara tersebut. Namun, terkadang konsistensi pada satu bentuk tertentu, demi menjaga kemaslahatan dan menolak kemudaratan, bisa lebih utama pada waktu tertentu dibanding waktu lain. Bahkan sesuatu yang secara umum kurang utama bisa menjadi lebih utama dalam kondisi tertentu.

Selanjutnya Imam ash-Shanโ€™ani dalam Subulus Salam menjelaskan :

ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ู…ุดุฑูˆุนูŠุฉ ู†ุงูู„ุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ุŒ ููŠุณู„ู… ุนู„ู‰ ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู†. ูˆุฅู„ูŠู‡ ุฐู‡ุจ ุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ูˆู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ: ู„ุง ุชุฌูˆุฒ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ุนู„ู‰ ุงุซู†ุชูŠู† ู„ุฃู† ู…ูู‡ูˆู… ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุญุตุฑุŒ ู„ุฃู†ู‡ ููŠ ู‚ูˆุฉ ู…ุง ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ุฅู„ุง ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ ู„ุฃู† ุชุนุฑูŠู ุงู„ู…ุจุชุฏุฃ ู‚ุฏ ูŠููŠุฏ ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุบู„ุจุŒ ูˆุฃุฌุงุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุจุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆู‚ุน ุฌูˆุงุจุงู‹ ู„ู…ู† ุณุฃู„ ุนู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ูู„ุง ุฏู„ุงู„ุฉ ููŠู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุญุตุฑุŒ ูˆุจุฃู†ู‡ ู„ูˆ ุณู„ู… ูู‚ุฏ ุนุงุฑุถู‡ ูุนู„ู‡ ุตูŽู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ู… ูˆู‡ูˆ ุซุจูˆุช ุฅูŠุชุงุฑู‡ ุจุฎู…ุณุŒ ูƒู…ุง ููŠ ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ ุนู†ุฏ ุงู„ุดูŠุฎูŠู† ูˆุงู„ูุนู„ ู‚ุฑูŠู†ุฉ ุนู„ู‰ ุนุฏู… ุฅุฑุงุฏุฉ ุงู„ุญุตุฑ.ุณุจู„ ุงู„ุณู„ุงู… (2/ 7)

Hadis ini menjadi dalil disyariatkannya salat sunnah malam dengan dua rakaat-dua rakaat, yaitu salam setiap dua rakaat. Inilah pendapat mayoritas ulama. Imam Mฤlik berkata: tidak boleh menambah lebih dari dua rakaat, karena mafhum hadis menunjukkan pembatasan. Seakan-akan maknanya: โ€œTidak ada salat malam kecuali dua rakaat-dua rakaat.โ€ Sebab, definisi mubtadaโ€™ yang dibatasi dalam khabar biasanya menunjukkan hal itu.

Namun mayoritas ulama menjawab: hadis ini merupakan jawaban atas pertanyaan tentang salat malam, sehingga tidak menunjukkan pembatasan. Selain itu, jika memang menunjukkan pembatasan, maka bertentangan dengan perbuatan Nabi ๏ทบ yang terbukti berwitir dengan lima rakaat sekaligus, sebagaimana dalam hadis โ€˜ฤ€โ€™isyah yang diriwayatkan oleh al-Bukhฤrฤซ dan Muslim. Perbuatan Nabi ๏ทบ ini menjadi bukti bahwa hadis tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi.(Subul al-Salฤm (2/7)

Dari penjelasan tersebut di atas, mayoritas ulama tidak memaknai hadis Ibnu Umar sebagai sebuah pembatasan kalau salat malam mesti dua rakaat salam, karena telah sahih Nabi salat malam (witr) dengan 3,5,7,9 rakaat dengan sekali salam.

Selanjutnya mari kita ikuti penjelasan Imam al-Mawardi salah satu fakih mazhab Syafiโ€™i di bawah ini.

ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ูููŠ ูƒูŽูŠู’ูููŠู‘ูŽุฉู ู‚ููŠูŽุงู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ูููŠ ู†ูŽูˆูŽุงููู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ู…ูŽุซู’ู†ูŽู‰ ู…ูŽุซู’ู†ูŽู‰ ุŒ ูŠูŽู‚ู’ุทูŽุนู ูƒูู„ู‘ูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุŒ ุจูุณูŽู„ูŽุงู…ู ุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุฃู’ู†ููู ู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูู…ูŽุง ุจูุฅูุญู’ุฑูŽุงู…ู ุŒ ูˆูŽุฃูŽูŠู‘ูŽ ุนูŽุฏูŽุฏู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุจูุชูŽุณู’ู„ููŠู…ูŽุฉู ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ุฃูŽุฌู’ุฒูŽุฃูŽู‡ู ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุญูŽู†ููŠููŽุฉูŽ : ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ุจูุณูŽู„ูŽุงู…ู ุŒ ูˆูŽุขูƒูŽุฏูู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฒููŠุฏูŽ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุŒ ูˆูŽูููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุซูŽู…ูŽุงู†ู ุชูŽุนูŽู„ู‘ูู‚ู‹ุง ุจูุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉู ุฃูŽุจููŠ ุฃูŽูŠู‘ููˆุจูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู {ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ} ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ู„ูŽุง ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุชูŽุณู’ู„ููŠู…ูŽุฉู ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู ูŠููู’ุชูŽุญู ู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ุŒ ูˆูŽุจูู…ูŽุง ุฑููˆููŠูŽ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุŒ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ {ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ} ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุซูŽู…ูŽุงู†ููŠูŽ ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ู„ูŽุง ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ูููŠ ุขุฎูุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ .ุงู„ุญุงูˆูŠ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ู„ู„ู…ุงูˆุฑุฏูŠ ู€ ุท ุงู„ููƒุฑ (2/ 659)

Pembahasan tentang cara salat malam yang paling utama:

Dalam salat sunnah malam maupun siang, yang lebih utama adalah dua rakaat-dua rakaat, yaitu setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, lalu memulai rakaat berikutnya dengan takbiratul ihram. Namun, jika seseorang salat dengan jumlah rakaat berapa pun dalam satu salam, maka tetap sah dan tidak makruh.

Pendapat Abลซ แธคanฤซfah: Yang lebih utama dalam salat sunnah malam maupun siang adalah empat rakaat dengan satu salam. ย ย ย ย  Bahkan lebih ditekankan untuk menambah rakaat di siang hari lebih dari empat, dan di malam hari lebih dari delapan.

Dalilnya: riwayat dari Abลซ Ayyลซb al-Anแนฃฤrฤซ bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda: โ€œEmpat rakaat sebelum Zuhur dengan satu salam, maka dibukakan pintu-pintu langit untuknya.โ€ Juga riwayat dari โ€˜ฤ€โ€™isyah raแธiyallฤhu โ€˜anhฤ bahwa Nabi ๏ทบ salat malam delapan rakaat dengan satu salam di akhir. (al-แธคฤwฤซ al-Kabฤซr (2/659))

Al-Mawardi hanya menyatakan salat malam dan siang utamanya dengan dua rakaat sekali salam, namun ia juga menegaskan jika lebih dari dua raakat sekali salam salatnya tetap sah dan tidak makruh.

Lebih lanjut Syaikh โ€˜Abdullฤh bin โ€˜Abd al-Raแธฅmฤn al-Bassฤm lewat Taysฤซr al-โ€˜Allฤm Sharแธฅ โ€˜Umdat al-Aแธฅkฤm (1/192) menjelaskan :

ุฃู…ุง ุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ููŠ ุฐู„ูƒุŒ ูุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ุฃุฌุงุฒ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ููŠ ุงู„ู†ุงูู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุฃุฑุจุน ู„ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ. ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ุฃุฌุงุฒ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ุจู„ุง ุญุฏุŒ ูˆู…ุงู„ูƒ ู„ู… ูŠุฌุฒ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ุนู„ู‰ ุฑูƒุนุชูŠู† ) ุชูŠุณูŠุฑ ุงู„ุนู„ุงู… ุดุฑุญ ุนู…ุฏุฉ ุงู„ุญูƒุงู…- ู„ู„ุจุณุงู… (1/ 192)

Adapun pendapat para imam mengenai hal ini (salat lail berapa rakaat salam):

  • Imam Aแธฅmad membolehkan penambahan rakaat dalam salat sunnah hingga empat rakaat.
  • Imam al-Shฤfiโ€˜ฤซ membolehkan penambahan tanpa batasan jumlah.
  • Imam Mฤlik tidak membolehkan penambahan lebih dari dua rakaat.

Pembahasan agak panjang dikemukakan oleh Syaikh Sulaymฤn ibn Nฤแนฃir ibn โ€˜Abdillฤh al-โ€˜Alwฤn dalam kitab ahkam qiyam al-lail mulai halaman 17 sebagai berikut

Masalah ketiga: (tentang tata cara shalat malam) Imam Mฤlik, al-Syฤfiโ€˜ฤซ, Ahmad, dan sekelompok salaf berpendapat bahwa shalat malam itu dilakukan dua rakaat-dua rakaat, kecuali witir yang satu rakaat. Mereka berbeda pendapat apakah hal itu wajib atau hanya sunnah. Dalil mereka adalah hadis sahih dari Ibn โ€˜Umar, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi ๏ทบ tentang shalat malam, maka beliau bersabda: โ€œShalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu subuh, maka hendaklah ia shalat satu rakaat yang menjadikan witir bagi apa yang telah ia shalat.โ€

Ungkapan โ€œdua rakaat-dua rakaatโ€ maksudnya adalah salam setiap dua rakaat, ada yang mengatakan wajib, ada yang mengatakan sunnah. Dalam kitab al-Mubdiโ€˜ disebutkan: jika ditambah lebih dari itu, maka menurut Ibn Syihฤb dan penulis kitab, tidak sah. Imam Ahmad berkata tentang orang yang berdiri pada rakaat ketiga dalam tarawih: hendaklah ia kembali meskipun sudah membaca, karena harus ada salam, dan itu wajib, berdasarkan hadis. Riwayat lain darinya: sah tetapi makruh, dan ini yang masyhur, baik ia sadar jumlah rakaat atau lupa. Riwayat lain darinya: tidak makruh.

Adapun menurut Abลซ Hanฤซfah, beliau berkata tentang shalat malam: โ€œJika engkau mau dua rakaat, jika mau empat, jika mau enam, jika mau delapan, dan tidak perlu salam kecuali di akhir.โ€ Yang lebih utama dalam mazhabnya adalah shalat empat rakaat dengan satu salam, berdasarkan hadis โ€˜ฤ€isyah dalam Shahihain ketika Abลซ Salamah bin โ€˜Abd al-Rahmฤn bertanya tentang shalat Nabi ๏ทบ di malam hari, ia menjawab: โ€œBeliau shalat empat rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga rakaat.โ€

Hadis ini bersifat umum, tidak secara tegas menyebutkan bahwa empat rakaat itu dengan satu salam. Ada kemungkinan bahwa shalat malam dilakukan satu rakaat, namun saya lebih condong pada empat rakaat dengan satu salam, mengikuti makna lahiriah hadis, kecuali ada dalil yang jelas yang mengeluarkannya dari itu. Adapun hadis Ibn โ€˜Umar โ€œShalat malam itu dua rakaat-dua rakaatโ€ tidak menunjukkan kewajiban salam setiap dua rakaat, karena lafaznya tidak mendukung hal itu. Maka hadis tersebut dipahami sebagai anjuran (sunnah), dan itulah yang lebih banyak diamalkan. Hadis-hadis lain juga menunjukkan kesunnahan dalam sebagian keadaan.

Ibadah yang datang dengan bentuk yang beragam, sebaiknya diamalkan semuanya. Itu lebih utama daripada terus-menerus pada satu bentuk dan meninggalkan bentuk lainnya. Karena petunjuk Nabi ๏ทบ adalah melakukan kedua cara. Namun terkadang konsistensi pada satu bentuk demi maslahat dan menghindari mudarat bisa lebih utama pada waktu tertentu. Sehingga sesuatu yang secara umum lebih rendah bisa menjadi lebih utama dalam kondisi tertentu. Ini berlaku umum pada semua ibadah yang datang dengan bentuk beragam. Kesimpulan umumnya adalah memperhatikan maslahat, dan ini berbeda-beda sesuai keadaan, negeri, dan orang.

Tentang apakah ada tasyahhud pada dua rakaat, atau shalat empat rakaat dengan satu tasyahhud saja: tidak ada dalil yang jelas. Yang tampak adalah adanya pilihan. Jika mau, ia shalat empat rakaat dengan satu tasyahhud, jika mau ia bertasyahhud dua kali, namun salamnya hanya di akhir.

Adapun shalat witir: boleh witir dengan satu rakaat, berdasarkan hadis Ibn โ€˜Umar sebelumnya: โ€œJika salah seorang dari kalian khawatir masuk subuh, maka shalatlah satu rakaat yang menjadikan witir bagi apa yang telah ia shalatโ€ (muttafaq โ€˜alaih). Dalam riwayat Muslim dari jalur Syuโ€˜bah, dari Qatฤdah, dari Abฤซ Majliz, ia berkata: aku mendengar Ibn โ€˜Umar meriwayatkan dari Nabi ๏ทบ: โ€œWitir itu satu rakaat di akhir malam.โ€ Jika sebelumnya ia shalat genap (syafโ€˜), itu lebih utama.

Ia juga boleh witir dengan tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat. Namun jika witir dengan tiga, tidak bertasyahhud dua kali, cukup sekali di akhir. Sunnah juga bagi yang shalat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan, lalu duduk, berzikir, memuji Allah, dan berdoa, kemudian bangkit tanpa salam, lalu shalat rakaat kesembilan, kemudian salam. Hadis ini terdapat dalam Shahih Muslim dari โ€˜ฤ€isyah. Dalam hadis itu disebutkan bahwa Nabi ๏ทบ setelah salam, shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Melakukan variasi dalam bentuk-bentuk ini lebih utama, sebagai bentuk menjaga sunnah dan mengikuti petunjuk Nabi ๏ทบ.

Di kalangan mazahb Hanafi juga ada perbedaan pendapat sbegaiman dijelaskan oleh Imam โ€˜Alฤโ€™ al-Dฤซn Abลซ Bakr ibn Masโ€˜ลซd al-Kฤsฤnฤซ al-แธคanafฤซ (w. 587 H/1191 M) dalamย  Badฤโ€™iโ€˜ al-แนขanฤโ€™iโ€˜ fฤซ Tartฤซb al-Sharฤโ€™iโ€˜ (3/178) di bawah ini.

ูˆุฃู…ุง ููŠ ุงู„ู„ูŠู„ ูุฃุฑุจุน ุฃุฑุจุน ููŠ ู‚ูˆู„ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ุŒ ูˆุนู†ุฏ ุฃุจูŠ ูŠูˆุณู ูˆู…ุญู…ุฏ ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุงุญุชุฌุง ุจู…ุง ุฑูˆู‰ ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ { ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ ูˆุจูŠู† ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู† ูุณู„ู… } ุฃู…ุฑ ุจุงู„ุชุณู„ูŠู… ุนู„ู‰ ุฑุฃุณ ุงู„ุฑูƒุนุชูŠู† ูˆู…ุง ุฃุฑุงุฏ ุจู‡ ุงู„ุฅูŠุฌุงุจ ุ› ู„ุฃู†ู‡ ุบูŠุฑ ูˆุงุฌุจ ูุชุนูŠู† ุงู„ุงุณุชุญุจุงุจ ู…ุฑุงุฏุง ุจู‡ ุ› ูˆู„ุฃู† ุนู…ู„ ุงู„ุฃู…ุฉ ููŠ ุงู„ุชุฑุงูˆูŠุญ ูุธู‡ุฑ ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ ู…ู† ู„ุฏู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฅู„ู‰ ูŠูˆู…ู†ุง ู‡ุฐุง ูุฏู„ ุฃู† ุฐู„ูƒ ุฃูุถู„ ุŒ)ุจุฏุงุฆุน ุงู„ุตู†ุงุฆุน ููŠ ุชุฑุชูŠุจ ุงู„ุดุฑุงุฆุน (3/ 178)

โ€œAdapun shalat malam, menurut Abลซ แธคanฤซfah dilakukan empat rakaat-empat rakaat. Sedangkan menurut Abลซ Yลซsuf dan Muแธฅammad, dilakukan dua rakaat-dua rakaat, dan ini juga pendapat al-Shฤfiโ€˜ฤซ. Mereka berdalil dengan riwayat dari Ibn โ€˜Umar raแธiyallฤhu โ€˜anhumฤ, dari Nabi ๏ทบ, bahwa beliau bersabda: โ€˜Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, dan di antara setiap dua rakaat hendaklah salam.โ€™ Beliau memerintahkan salam pada setiap dua rakaat. Namun yang dimaksud bukanlah kewajiban, karena salam itu tidak wajib, maka yang dimaksud adalah anjuran. Dan karena praktik umat Islam dalam shalat tarawih sejak zaman โ€˜Umar raแธiyallฤhu โ€˜anhu hingga hari ini adalah dua rakaat-dua rakaat, maka hal itu menunjukkan bahwa cara tersebut lebih utama.โ€

Teks ini menjelaskan perbedaan pendapat ulama Hanafiyyah:

  • Abลซ แธคanฤซfah: shalat malam boleh empat rakaat sekaligus.
  • Abลซ Yลซsuf & Muแธฅammad (murid Abลซ แธคanฤซfah): dua rakaat-dua rakaat, sesuai hadis Ibn โ€˜Umar.
  • Al-Shฤfiโ€˜ฤซ: sejalan dengan pendapat Abลซ Yลซsuf dan Muแธฅammad.
  • Dalil utama: hadis Nabi ๏ทบ dan praktik umat Islam dalam tarawih sejak masa โ€˜Umar bin al-Khaแนญแนญฤb.

Jadi kebanyakan ulama tidak menjadikan hadis iBnu Umar di atas sebagai sebuah keharusan kala salat malam mesti dua salam dua salam, perhatikan penegasan Syaikh Muแธฅammad ibn โ€˜Alฤซ ibn ฤ€dam ibn Mลซsฤ al-Ityลซbฤซ al-Wallawฤซ dalamย  kitab Dhakhฤซrat al-โ€˜Uqbฤ fฤซ Sharแธฅ al-Mujtabฤ (syarah atas Sunan al-Nasฤโ€™ฤซ al-Mujtabฤ) salah satu syarah hadis paling lengkap atas Sunan al-Nasฤโ€™ฤซย  berikut ini :

ูˆุญู…ู„ู‡ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุจูŠุงู† ุงู„ุฃูุถู„ุŒ ู„ู…ุง ุตุญู‘ ู…ู† ูุนู„ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุจุฎู„ุงูู‡ุŒ ูˆู„ู… ูŠุชุนูŠู‘ู† ุฃูŠุถู‹ุง ูƒูˆู†ู‡ ู„ุฐู„ูƒุŒ ุจู„ ูŠุญุชู…ู„ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู„ู„ุฅุฑุดุงุฏ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุฎูู‘ุŒ ุฅุฐ ุงู„ุณู„ุงู… ุจูŠู† ูƒู„ู‘ ุฑูƒุนุชูŠู† ุฃุฎูู‘ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ูŠ ู…ู† ุงู„ุฃุฑุจุนุŒ ูู…ุง ููˆู‚ู‡ุง, ู„ู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฑุงุญุฉ ุบุงู„ุจู‹ุงุŒ ูˆู‚ุถุงุก ู…ุง ูŠูŽุนุฑุถ ู…ู† ุฃู…ุฑ ู…ู‡ู…ู‘ุŒ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ูˆุตู„ ู„ุจูŠุงู† ุงู„ุฌูˆุงุฒ ูู‚ุท ู„ู… ูŠูˆุงุธุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… -ุŒ ูˆู…ู† ุงุฏุนู‰ ุงุฎุชุตุงุตู‡ ุจู‡ุŒ ูุนู„ูŠู‡ ุงู„ุจูŠุงู†ุŒ ูˆู‚ุฏ ุตุญู‘ ุนู†ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุงู„ูุตู„ุŒ ูƒู…ุง ุตุญู‘ ุนู†ู‡ ุงู„ูˆุตู„ุŒ ูุนู†ุฏ ุฃุจูŠ ุฏุงูˆุฏุŒ ูˆู…ุญู…ุฏ ุจู† ู†ุตุฑ ู…ู† ุทุฑูŠู‚ูŠ ุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠู‘ ูˆุงุจู† ุฃุจูŠ ุฐุฆุจุŒ ูƒู„ุงู‡ู…ุง ุนู† ุงู„ุฒู‡ุฑูŠู‘ุŒ ุนู† ุนุฑูˆุฉุŒ ุนู† ุนุงุฆุดุฉ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนู†ู‡ -: “ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูƒุงู† ูŠุตู„ูŠ ู…ุง ุจูŠู† ุฃู† ูŠูุฑุบ ู…ู† ุงู„ุนุดุงุก ุฅู„ู‰ ุงู„ูุฌุฑ ุฅุญุฏู‰ ุนุดุฑุฉ ุฑูƒุนุฉุŒ ูŠุณู„ู‘ู… ู…ู† ูƒู„ู‘ ุฑูƒุนุชูŠู†”ุŒ ูˆุฅุณู†ุงุฏู‡ู…ุง ุนู„ู‰ ุดุฑุท ุงู„ุดูŠุฎูŠู†.)ุฐุฎูŠุฑุฉ ุงู„ุนู‚ุจู‰ ููŠ ุดุฑุญ ุงู„ู…ุฌุชุจู‰ (18/ 16)

“Mayoritas ulama memahaminya sebagai penjelasan tentang yang lebih utama, karena telah sahih bahwa Nabi ๏ทบ melakukan hal yang berbeda darinya. Namun, tidak mesti harus dipahami demikian, sebab bisa jadi maksudnya adalah memberi petunjuk kepada yang lebih ringan, karena salam setiap dua rakaat lebih ringan bagi orang yang shalat dibandingkan empat rakaat atau lebih, sebab di dalamnya terdapat istirahat pada umumnya, serta kesempatan untuk menyelesaikan urusan penting yang mungkin muncul. Seandainya penyambungan (tanpa salam) hanya sekadar untuk menunjukkan kebolehan, niscaya Nabi ๏ทบ tidak akan terus-menerus melakukannya. Barangsiapa mengklaim bahwa hal itu khusus bagi beliau, maka ia wajib memberikan dalil. Telah sahih dari Nabi ๏ทบ adanya pemisahan, sebagaimana sahih pula darinya adanya penyambungan. Maka dalam riwayat Abu Dawud dan Muhammad bin Nashr, dari dua jalur: al-Awzฤโ€˜ฤซ dan Ibn Abฤซ Dhฤซb, keduanya dari al-Zuhrฤซ, dari โ€˜Urwah, dari โ€˜ฤ€isyah raแธiyallฤhu โ€˜anhฤ: โ€œBahwa Nabi ๏ทบ biasa shalat antara selesai โ€˜Isyฤ hingga fajar sebanyak sebelas rakaat, beliau salam setiap dua rakaat.โ€ Kedua sanadnya sesuai dengan syarat al-Bukhฤrฤซ dan Muslim.”

Selanjutnya kita kutip beberapa hadis fikli Nabi bahwa beliau berwitir lebih dari 1 rakaat dengan satu salam artinya beliau memberi contoh tidak mesti dua rakaat salam.

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูŠููˆุชูุฑู ุจูุซูŽู„ุงูŽุซู ู„ุงูŽ ูŠูŽู‚ู’ุนูุฏู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ููู‰ ุขุฎูุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ.)ุงู„ุณู†ู† ุงู„ูƒุจุฑู‰ ู„ู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ูˆููŠ ุฐูŠู„ู‡ ุงู„ุฌูˆู‡ุฑ ุงู„ู†ู‚ูŠ (3/ 28)

Dari โ€˜ฤ€โ€™isyah berkata: โ€œRasulullah ๏ทบ berwitir dengan tiga rakaat, dan beliau tidak duduk (tasyahhud) kecuali pada rakaat terakhir.โ€(Al-Sunan al-Kubrฤ karya al-Bayhaqฤซ, dengan syarah al-Jawhar al-Naqฤซ (3/28)

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ : ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุตูŽู„ุงูŽุชูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุซูŽู„ุงูŽุซูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ุŒ ูŠููˆุชูุฑู ุจูุฎูŽู…ู’ุณู ุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู ููู‰ ุดูŽู‰ู’ุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุณู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฌู’ู„ูุณูŽ ููู‰ ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ูŠูุณูŽู„ู‘ูู…ู.)ุงู„ุณู†ู† ุงู„ูƒุจุฑู‰ ู„ู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ูˆููŠ ุฐูŠู„ู‡ ุงู„ุฌูˆู‡ุฑ ุงู„ู†ู‚ูŠ (3/ 27)

Dari โ€˜ฤ€โ€™isyah: โ€œSesungguhnya salat malam Rasulullah ๏ทบ adalah tiga belas rakaat. Beliau berwitir dengan lima rakaat, dan tidak salam pada satu pun dari lima rakaat itu hingga beliau duduk pada rakaat terakhir, lalu salam.โ€

Teks ini menegaskan bahwa Nabi ๏ทบ kadang berwitir dengan lima rakaat sekaligus tanpa salam di antara rakaat-rakaatnya, hanya salam di akhir. Ini menjadi salah satu dalil bahwa tata cara witir itu bervariasi, dan semua bentuk yang diriwayatkan dari Nabi ๏ทบ adalah sunnah yang sah untuk diamalkan. (Al-Sunan al-Kubrฤ karya al-Bayhaqฤซ, dengan syarah al-Jawhar al-Naqฤซ (3/27)

Lebih lanjut silakan baca hadis hadis witir dari 1 rakaat sampai 9 rakaat lihat kitab Ibnu al-Kharrath dalam al-Ahkam al-Kubra juz II halaman 355 dan seterusnya.

Seterusnya kita kutip penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Juz II halaman 479.

ูˆุงุณุชุฏู„ ุจู‡ุฐุง ุนู„ู‰ ุชุนูŠู† ุงู„ูุตู„ ุจูŠู† ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู† ู…ู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ู‚ุงู„ ุจู† ุฏู‚ูŠู‚ ุงู„ุนูŠุฏ ูˆู‡ูˆ ุธุงู‡ุฑ ุงู„ุณูŠุงู‚ ู„ุญุตุฑ ุงู„ู…ุจุชุฏุฃ ููŠ ุงู„ุฎุจุฑ ูˆุญู…ู„ู‡ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุจูŠุงู† ุงู„ุฃูุถู„ ู„ู…ุง ุตุญ ู…ู† ูุนู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุจุฎู„ุงูู‡ ูˆู„ู… ูŠุชุนูŠู† ุฃูŠุถุง ูƒูˆู†ู‡ ู„ุฐู„ูƒ ุจู„ ูŠุญุชู…ู„ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู„ู„ุงุฑุดุงุฏ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุฎู ุฅุฐ ุงู„ุณู„ุงู… ุจูŠู† ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู† ุฃุฎู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ูŠ ู…ู† ุงู„ุฃุฑุจุน ูู…ุง ููˆู‚ู‡ุง ู„ู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฑุงุญุฉ ุบุงู„ุจุง ูˆู‚ุถุงุก ู…ุง ูŠุนุฑุถ ู…ู† ุฃู…ุฑ ู…ู‡ู… ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ูˆุตู„ ู„ุจูŠุงู† ุงู„ุฌูˆุงุฒ ูู‚ุท ู„ู… ูŠูˆุงุธุจ ุนู„ูŠู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…ย ย  ) ูุชุญ ุงู„ุจุงุฑูŠ – ุงุจู† ุญุฌุฑ (2/ 479)

Sebagian ulama berargumentasi bahwa hadis ini (hadis Ibnu Umar salat malam dua dua) menunjukkan keharusan salam setiap dua rakaat salat malam. Ibn Daqฤซq al-โ€˜ฤชd berkata: โ€˜Hal ini tampak dari susunan lafaz, karena mubtadaโ€™ dibatasi dalam khabar.โ€™ Namun mayoritas ulama memahaminya sebagai penjelasan tentang yang lebih utama, karena sahih riwayat Nabi ๏ทบ melakukan cara lain. Tidak mesti dipahami demikian, bisa juga sebagai bimbingan agar lebih ringan, sebab salam setiap dua rakaat lebih ringan bagi orang salat dibanding empat rakaat sekaligus, karena memberi jeda istirahat dan kesempatan menyelesaikan urusan penting. Seandainya penyambungan rakaat hanya untuk menunjukkan kebolehan, Nabi ๏ทบ tidak akan melakukannya terus-menerus.

Al-โ€˜Aini dalam Sharแธฅ Abฤซ Dฤwลซd โ€“ al-โ€˜Aynฤซ (5/232) menegaskan sahnya salat 4 rakaat sekaligus:

ุด- ุงุณุชุฏู„ ุจู‡ ุฃุจูˆ ูŠูˆุณู ูˆู…ุญู…ุฏุŒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุŒ ูˆู…ุงู„ูƒุŒ ูˆุฃุญู…ุฏ ุฃู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฃู† ูŠุณู„ู… ููŠ ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู†. ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆู†ุญูˆู‡ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ุจูŠุงู† ุงู„ุฃูุถู„ ูˆู„ูˆ ุตู„ู‰ ุฃุฑุจุนุง ุจุชุณู„ูŠู…ุฉ ุฌุงุฒ) ุดุฑุญ ุฃุจูŠ ุฏุงูˆุฏ ู„ู„ุนูŠู†ูŠ (5/ 232)

โ€œAbลซ Yลซsuf, Muแธฅammad, al-Shฤfiโ€˜ฤซ, Mฤlik, dan Aแธฅmad berdalil dengan hadis ini bahwa salat malam itu dua rakaat-dua rakaat, yaitu dengan salam setiap dua rakaat. Hadis ini dan yang semisalnya dipahami sebagai penjelasan tentang yang lebih utama. Namun, jika seseorang salat empat rakaat sekaligus dengan satu salam, maka hal itu tetap sah.โ€

Ringkasnya:

  • Mayoritas imam mazhab (kecuali sebagian pendapat Hanafiyyah) memahami hadis โ€œแนฃalฤt al-layl mathnฤ mathnฤโ€ sebagai anjuran salam setiap dua rakaat, bukan kewajiban.
  • Hikmahnya: salam setiap dua rakaat lebih ringan dan memberi kesempatan istirahat.
  • Namun, menyambung empat rakaat sekaligus tetap boleh, hanya saja bukan bentuk yang paling utama.

Dalam kitab Minแธฅat al-โ€˜Allฤm Sharแธฅ Bulลซgh al-Marฤm (234) karya โ€˜Abdullฤh ibn แนขฤliแธฅ al-Fawzฤn diterangkan:

ูˆู‚ุฏ ุฃุฎุฐ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ุงู„ูƒ ุจุญุฏูŠุซ ุงู„ุจุงุจ ู…ุณุชุฏู„ุงู‹ ุจู‡ ุนู„ู‰ ุชูŽุนูŽูŠู‘ูู†ู ุงู„ูุตู„ ุจูŠู† ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู† ู…ู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ุŒ ู„ุฃู† ู‡ุฐุง ุธุงู‡ุฑ ุงู„ุณูŠุงู‚ุŒ ู„ุญุตุฑ ุงู„ู…ุจุชุฏุฃ ููŠ ุงู„ุฎุจุฑุŒ ูู‡ูˆ ููŠ ู‚ูˆุฉ: ู…ุง ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ุฅู„ุง ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ุŒ ู„ูƒู† ูŠุฑุฏ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ูุนู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ูƒู…ุง ุณูŠุฃุชูŠุŒ ูˆุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุฅู„ู‰ ุฃู† ุฐู„ูƒ ู„ุง ูŠู„ุฒู…ุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ู„ุจูŠุงู† ุงู„ุฃูุถู„ุŒ ู„ู…ุง ุณูŠุฃุชูŠ ู…ู† ูุนู„ู‡ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุจุฎู„ุงูู‡ุŒ ุฃูˆ ูŠู‚ุงู„: ุฅู†ู‡ ู…ุฑุงุฏ ุจู‡ ุงู„ุฅุฑุดุงุฏ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฃุฎูุŒ ู„ุฃู† ุงู„ุณู„ุงู… ู…ู† ูƒู„ ุฑูƒุนุชูŠู† ุฃุฎู ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ูŠ ู…ู† ุงู„ุฃุฑุจุน ูู…ุง ููˆู‚ู‡ุงุŒ ู„ู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฑุงุญุฉ ุบุงู„ุจุงู‹ุŒ ูˆู‚ุถุงุกู ู…ุง ูŠุนุฑุถ ู…ู† ุฃู…ุฑ ู…ู‡ู…ุŒ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ูˆุตู„ ู„ุจูŠุงู† ุงู„ุฌูˆุงุฒ ูู‚ุท ู„ู…ุง ูˆุงุธุจ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู…ุŒ ูˆู‚ุฏ ุตุญ ุนู†ู‡ ุงู„ูุตู„ ูˆุงู„ูˆุตู„.ู…ู†ุญุฉ ุงู„ุนู„ุงู… ุดุฑุญ ุจู„ูˆุบ ุงู„ู…ุฑุงู… ู„ุนุจุฏุงู„ู„ู‡ ุงู„ููˆุฒุงู† (ุต: 234)

Para ulama, termasuk Mฤlik, berdalil dengan hadis ini bahwa wajib ada pemisahan (salam) setiap dua rakaat dalam salat malam. Hal itu karena susunan lafaz hadis menunjukkan pembatasan mubtadaโ€™ dalam khabar, sehingga seakan-akan maknanya: โ€œTidak ada salat malam kecuali dua rakaat-dua rakaat.โ€

Namun, hal ini ditentang oleh perbuatan Nabi ๏ทบ sebagaimana akan disebutkan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu tidak wajib, melainkan hadis tersebut hanya untuk menjelaskan yang lebih utama. Sebab, telah sah riwayat perbuatan Nabi ๏ทบ yang berbeda dengan hal itu. Ada juga yang mengatakan bahwa maksud hadis tersebut adalah bimbingan menuju yang lebih ringan, karena salam setiap dua rakaat lebih ringan bagi orang yang salat dibanding empat rakaat sekaligus atau lebih, sebab memberi kesempatan istirahat dan menyelesaikan urusan penting. Seandainya penyambungan rakaat hanya untuk menunjukkan kebolehan, tentu Nabi ๏ทบ tidak akan melakukannya secara terus-menerus. Riwayat sahih menunjukkan bahwa Nabi ๏ทบ melakukan keduanya: kadang salam setiap dua rakaat, kadang menyambung rakaat.

Penutup

Memahami hadis salat malam dua-dua ada ulama yang memahami salat malam harus dilakukan dua rakat salam dua rakat salam, ini dipegang oleh Imam Malik dan yang sepaham. Sedang mayoritas ulama memahami salat malam utamanya dilakukan dua rakat salam dua rakat salam bukan sebuah keharusan kalau salat malam mesti dua rakat sekali salam. Jika ada yang bersalam 4 rakaat sekali salam tetap sah dan tidak makruh.

Sikap bijak adalah tidak memutlakkan pendapat sendiri dengan menafikan pemahaman lain. Tidak perlu gampang memvonis tata cara ibadah orang lain dengan label salah karena sejatinya mereka juga mempunya hujjah dan argumen yang boleh jadi belum sempat kita pelajari.

Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari (ุฒูƒุฑูŠุง ุงู„ุฃู†ุตุงุฑูŠ) salah seorang ulama besar mazhab Syafiโ€™i penulis kitab fikih terkenal Asna al-Mathalib fi Syarh Raudhatu ath-Thalib menjelaskan dalam Fatแธฅ al-โ€˜Allฤm bi Sharแธฅ al-Iโ€˜lฤm bi Aแธฅฤdฤซth al-Aแธฅkฤm sebagai berikut.

ูˆููŠู‡ ุฃู† ูƒู„ ุฃุฑุจุน ู…ู†ู‡ุง ุจุชุณู„ูŠู… ูˆุงุญุฏ ูˆุงู„ุซู„ุงุซ ุงู„ุฃุฎูŠุฑุฉ ุจุชุณู„ูŠู… ูˆุงุญุฏ ูˆู‡ูˆ ุฌุงุฆุฒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ุฃูุถู„ ู„ู†ุง ุฃู† ูƒู„ ุซู†ุชูŠู† ุจุชุณู„ูŠู… ูˆุงุญุฏุŒ ู„ุฎุจุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰ ู…ุน ุฒูŠุงุฏุฉ ุชุนุฏุฏ ุงู„ุณู„ุงู….)ูุชุญ ุงู„ุนู„ุงู… ุจุดุฑุญ ุงู„ุฅุนู„ุงู… ุจุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุฃุญูƒุงู… (ุต: 236)

โ€œDi dalamnya (hadis Aisyah 4+4+3) tersebut) terdapat penjelasan bahwa setiap empat rakaat dilakukan dengan satu salam, dan tiga rakaat terakhir juga dengan satu salam. Hal itu boleh dilakukan, meskipun yang lebih utama bagi kita adalah setiap dua rakaat dengan satu salam, berdasarkan hadis โ€˜Salat malam itu dua rakaat-dua rakaatโ€™ dengan tambahan penjelasan adanya salam berulang.โ€

Jadi walaupun beliau bermazhab Syafiโ€™I, dengan lugas mengatakan salat 4 4 3 boleh dilakukan dengan sekali salam, walau yang utama menurut beliau tetap bersalam setiap dua rakaat. Beliau tidak mengatakan salat 4 rakaat sekali salam itu tidak sah.

Majelis Tarjih sendiri mempersilakan warga persyarikatan untuk memilih formasi 443 atau 22223 atau 222221, juga menganjurkan membuka atau mengawali qiyam Ramadhan dengan dua rakaat yang ringan.

Selanjutnya mari kita isi bulan Ramadhan ini dengan qiyam Ramadhan tanpa meributkan hal-hal yang tidak urgen seperti masalah jumlah rakaat dan tata cara pelaksanaannya, lakukan yang kita yakini kuat dan benar tanpa mudah menyalahkan pemahaman yang berbeda. Wallahu aโ€™lam.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button