Dinamika PesyarikatanDinamika TablighOrganisasi

Antara Formal Dan Formalitas Dalam Dakwah

Ketika Bentuk Menjadi Penting, tetapi Substansi Jangan Sampai Hilang

Dakwah membutuhkan kesungguhan. Karena itu, sebuah kegiatan dakwah tentu perlu dipersiapkan dengan baik: tempat yang layak, susunan acara yang tertib, pakaian yang pantas, pembicara yang kompeten, serta penyelenggaraan yang profesional.

Semua itu adalah bagian dari formalitas yang baik.

Namun, kita perlu berhati-hati ketika formalitas justru menjadi tujuan. Jangan sampai sebuah kegiatan dakwah terlihat begitu meriah secara lahiriah, tetapi pesan yang disampaikan tidak membekas dalam kehidupan. Acara selesai, foto telah diunggah, dokumentasi telah tersebar, tetapi tidak ada perubahan berarti dalam diri kita.

Di sinilah pentingnya membedakan antara formal dan formalitas.

Formal Itu Baik, Formalitas Jangan Berlebihan

Formal berarti sesuatu yang dilakukan secara tertib, sesuai aturan, sopan, dan memiliki tata cara yang jelas. Dalam dakwah, hal semacam ini justru diperlukan.

Islam mengajarkan keteraturan dan kesungguhan. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
(QS. Ash-Saff: 4)

Ayat ini memberikan gambaran tentang pentingnya keteraturan dan kerapian dalam sebuah perjuangan.

Maka, mempersiapkan pengajian dengan baik bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan, semakin besar tanggung jawab dakwah, semakin baik pula persiapannya.

Yang menjadi persoalan adalah ketika bentuk lebih diperhatikan daripada isi.

Ketika kita lebih sibuk memikirkan bagaimana acara terlihat daripada bagaimana pesan dakwah bekerja.

Ketika kita lebih memikirkan panggung daripada masyarakat yang membutuhkan pembinaan.

Ketika kita lebih mengejar dokumentasi daripada transformasi.

Di situlah formalitas perlu kita evaluasi.

Dakwah Bukan Sekadar Acara

Dakwah pada hakikatnya adalah mengajak manusia menuju kebaikan.

Allah Swt. berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)

Dari ayat tersebut, kita memahami bahwa dakwah memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan sebuah kegiatan.

Dakwah bertujuan menghadirkan kebaikan, perubahan, dan perbaikan kehidupan.

Pengajian hanyalah salah satu sarana. Ceramah adalah salah satu metode. Spanduk, panggung, pengeras suara, konsumsi, dan dokumentasi adalah bagian dari pendukung kegiatan.

Tetapi tujuan akhirnya adalah perubahan manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.

 

Ketika Dakwah Berhenti pada Seremonial

Ada sebuah fenomena yang patut menjadi bahan renungan.

Kita bisa sangat ramai ketika menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Masjid penuh, jamaah banyak, pembicara didatangkan, acara berlangsung meriah.

Namun setelah acara selesai, semangat itu perlahan hilang.

Padahal, keberhasilan dakwah tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak orang yang hadir, tetapi juga dari apa yang terjadi setelah mereka pulang.

Apakah shalatnya menjadi lebih baik?

Apakah hubungan dengan keluarga menjadi lebih harmonis?

Apakah kepedulian kepada tetangga meningkat?

Apakah kejujuran dalam bekerja semakin kuat?

Apakah anak-anak muda semakin dekat dengan masjid?

Apakah warga semakin peduli terhadap persoalan sosial di lingkungannya?

Jika dakwah mampu melahirkan perubahan semacam itu, maka dakwah telah menyentuh substansinya.

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Dakwah dengan Keteladanan

Dakwah tidak hanya dilakukan melalui kata-kata. Kehidupan seorang dai juga merupakan bagian dari dakwah.

Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana Islam dijalankan.

Beliau mengajarkan kejujuran sekaligus menjadi orang yang jujur.

Beliau mengajarkan kasih sayang sekaligus menunjukkan kasih sayang.

Beliau mengajarkan kepedulian sekaligus hadir membantu orang yang membutuhkan.

Karena itu, salah satu bentuk dakwah yang paling kuat adalah keteladanan.

Kadang-kadang perilaku kita berbicara lebih keras daripada ceramah kita.

 

Dakwah Harus Melahirkan Amal

Allah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakannya.

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Saff: 3)

Ayat ini bukan berarti seseorang harus menunggu menjadi sempurna sebelum berdakwah. Namun, ia menjadi pengingat agar dakwah dan kehidupan kita memiliki hubungan yang kuat.

Jangan sampai kita berbicara tentang persaudaraan, tetapi kita sendiri mudah bermusuhan.

Berbicara tentang keikhlasan, tetapi aktivitas dakwah selalu bergantung pada pujian manusia.

Berbicara tentang kepedulian sosial, tetapi tidak peduli ketika tetangga membutuhkan bantuan.

Berbicara tentang memakmurkan masjid, tetapi setelah acara selesai masjid kembali sepi.

Dakwah yang baik seharusnya menghubungkan ilmu, hati, dan amal.

 

Jangan Memusuhi Formalitas

Namun demikian, bukan berarti formalitas harus dianggap sebagai sesuatu yang buruk.

Formalitas tetap diperlukan.

Pakaian yang sopan adalah bagian dari adab.

Acara yang tertib menunjukkan penghargaan kepada jamaah.

Administrasi yang rapi membantu organisasi berjalan dengan baik.

Dokumentasi dapat menjadi sarana publikasi dan syiar.

Publikasi di media sosial dapat menginspirasi orang lain.

Bahkan kemasan dakwah yang menarik dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal Islam.

Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai kemasan menggantikan isi.

Kemasan diperlukan agar pesan lebih mudah diterima, tetapi pesan tetap menjadi tujuan utama.

Dari “Ramai Acara” Menuju “Ramai Amal”

Mungkin sudah waktunya kita menggeser ukuran keberhasilan dakwah.

Bukan hanya:

“Berapa banyak yang hadir?”

Tetapi juga:

“Berapa banyak yang berubah?”

Bukan hanya:

“Seberapa meriah acaranya?”

Tetapi:

“Seberapa kuat dampaknya?”

Bukan hanya:

“Berapa banyak foto yang dihasilkan?”

Tetapi:

“Berapa banyak amal yang lahir setelah kegiatan?”

Bukan hanya:

“Siapa yang menjadi pembicara?”

Tetapi:

“Apa yang kita lakukan setelah mendengarkan pembicaraan?”

Inilah tantangan dakwah kita hari ini.

 

Dakwah yang Menghidupkan

Dakwah yang hidup adalah dakwah yang mampu membawa nilai Islam keluar dari ruang pengajian menuju kehidupan sehari-hari.

Dari masjid menuju keluarga.

Dari mimbar menuju masyarakat.

Dari ilmu menuju amal.

Dari nasihat menuju keteladanan.

Dari kegiatan menuju gerakan kebaikan.

Dalam konteks Muhammadiyah, semangat dakwah juga tidak berhenti pada ceramah. Dakwah harus hadir dalam pendidikan, kesehatan, sosial, pemberdayaan masyarakat, pelayanan umat, dan berbagai bentuk amal usaha yang memberikan manfaat nyata.

Karena Islam bukan hanya untuk dibicarakan, tetapi juga untuk dihidupkan.

 

Penutup: Jangan Sampai Sibuk dengan Acara, Lupa dengan Tujuan

Formalitas bukan musuh dakwah.

Formalitas dapat menjadi kendaraan yang membantu dakwah berjalan lebih tertib, menarik, dan profesional.

Tetapi jangan sampai kendaraan itu justru membuat kita lupa ke mana tujuan perjalanan.

Kita boleh membuat acara yang megah, tetapi jangan kehilangan kesederhanaan hati.

Kita boleh membuat dokumentasi yang bagus, tetapi jangan kehilangan keikhlasan.

Kita boleh membuat dakwah tampil menarik, tetapi jangan kehilangan kebenaran dan substansinya.

Kita boleh sibuk menyiapkan acara, tetapi jangan lupa menyiapkan diri untuk mengamalkan apa yang kita sampaikan.

Sebab pada akhirnya, dakwah bukan tentang seberapa sering kita berbicara tentang kebaikan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang hadir melalui diri kita.

Dakwah yang formal akan tertib dalam bentuknya.
Dakwah yang tidak terjebak formalitas akan hidup dalam substansinya.
Dan dakwah yang terbaik adalah ketika ilmu yang disampaikan berubah menjadi amal, akhlak, dan kemanfaatan bagi sesama.

Semoga setiap kegiatan dakwah yang kita lakukan tidak berhenti sebagai seremonial, tetapi menjadi jalan lahirnya perubahan dan keberkahan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button