IbadahTuntunan

Mengadakan Kumpulan Menyambut Nishfu Syakban

Oleh : Dr. H Ali Trigiyatno, M.Ag (Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng)

๐Ÿ“… Ahad, 29 Maret 2026 | 10 Syawal 1447 H

Pendahuluan

Ada pemandangan kontras saat memasuki malam 15 Syakban di sebagian masjid-masjid di sekeliling kita. Sebagian ada kegiatan yang cukup semarak dilakukan jamaah untuk menyambutnya dengan berbagai ritual, namun sebagian masjid tidak tampak ada kegiatan khusus laksana malam-malam selainnya. Masjid-masjid Muhammadiyah tentu masuk yang kategori kedua di mana tidak ada sambutan atau kegiatan khusus buat menyambutnya.

Memang dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama sehubungan menyikapi datangnya nishfu Syakban. Sebagian kalangan meyakini ada keutamaan tersendiri dengan malam tersebut dan mereka mengadakan kegiatan khusus untuk itu. Namun sebagian lagi menganggap tidak ada keistimewaan khusus, sehingga tidak perlu ada sambutan atau kegiatan ritual tersendiri.

Asal muasal peringatan nishfu Syakban berasal dari sebgaian Tabiโ€™in di Syam. Artinya di zaman Nabi dan sahabat belum ada kegiatan seperti ini. Hal ini seperti ditulis oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha`if al-Maโ€™arif sebagai berikut :

ูƒุงู† ุงู„ุชุงุจุนูˆู† ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุดุงู… ูƒุฎุงู„ุฏ ุจู† ู…ุนุฏุงู† ูˆู…ูƒุญูˆู„ ูˆ ู„ู‚ู…ุงู† ุจู† ุนุงู…ุฑ ูˆ ุบูŠุฑู‡ู… ูŠุนุธู…ูˆู†ู‡ุง ูˆ ูŠุฌุชู‡ุฏูˆู† ููŠู‡ุง ููŠ ุงู„ุนุจุงุฏุฉ ูˆ ุนู†ู‡ู… ุฃุฎุฐ ุงู„ู†ุงุณ ูุถู„ู‡ุง ูˆ ุชุนุธูŠู…ู‡ุง ูˆ ู‚ุฏ ู‚ูŠู„ ุฃู†ู‡ ุจู„ุบู‡ู… ููŠ ุฐู„ูƒ ุขุซุงุฑ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ูŠุฉ ูู„ู…ุง ุงุดุชู‡ุฑ ุฐู„ูƒ ุนู†ู‡ู… ููŠ ุงู„ุจู„ุฏุงู† ุงุฎุชู„ู ุงู„ู†ุงุณ ููŠ ุฐู„ูƒ ูู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู‚ุจู„ู‡ ู…ู†ู‡ู… ูˆุงูู‚ู‡ู… ุนู„ู‰ ุชุนุธูŠู…ู‡ุง ู…ู†ู‡ู… ุทุงุฆูุฉ ู…ู† ุนุจุงุฏ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจุตุฑุฉ ูˆ ุบูŠุฑู‡ู… ูˆ ุฃู†ูƒุฑ ุฐู„ูƒ ุฃูƒุซุฑ ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุญุฌุงุฒ ู…ู†ู‡ู… ุนุทุงุก ูˆ ุงุจู† ุฃุจูŠ ู…ู„ูŠูƒุฉ ูˆ ู†ู‚ู„ู‡ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุฒูŠุฏ ุจู† ุฃุณู„ู… ุนู† ูู‚ู‡ุงุก ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ูˆ ู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุฃุตุญุงุจ ู…ุงู„ูƒ ูˆ ุบูŠุฑู‡ู… ูˆ ู‚ุงู„ูˆุง : ุฐู„ูƒ ูƒู„ู‡ ุจุฏุนุฉ

ูˆ ุงุฎุชู„ู ุนู„ู…ุงุก ุฃู‡ู„ ุงู„ุดุงู… ููŠ ุตูุฉ ุฅุญูŠุงุฆู‡ุง ุนู„ู‰ ู‚ูˆู„ูŠู† : ุฃุญุฏู‡ู…ุง : ุฃู†ู‡ ูŠุณุชุญุจ ุฅุญูŠุงุคู‡ุง ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูƒุงู† ุฎุงู„ุฏ ุจู† ู…ุนุฏุงู† ูˆ ู„ู‚ู…ุงู† ุจู† ุนุงู…ุฑ ูˆ ุบูŠุฑู‡ู…ุง ูŠู„ุจุณูˆู† ููŠู‡ุง ุฃุญุณู† ุซูŠุงุจู‡ู… ูˆ ูŠุชุจุฎุฑูˆู† ูˆ ูŠูƒุชุญู„ูˆู† ูˆ ูŠู‚ูˆู…ูˆู† ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู„ูŠู„ุชู‡ู… ุชู„ูƒ ูˆ ูˆุงูู‚ู‡ู… ุฅุณุญุงู‚ ุจู† ุฑุงู‡ูˆูŠุฉ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ูˆ ู‚ุงู„ ููŠ ู‚ูŠุงู…ู‡ุง ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ุฌู…ุงุนุฉ : ู„ูŠุณ ุจุจุฏุนุฉ ู†ู‚ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุญุฑุจ ุงู„ูƒุฑู…ุงู†ูŠ ููŠ ู…ุณุงุฆู„ู‡ ูˆ ุงู„ุซุงู†ูŠ : ุฃู†ู‡ ูŠูƒุฑู‡ ุงู„ุฅุฌุชู…ุงุน ููŠู‡ุง ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ูˆ ุงู„ู‚ุตุต ูˆ ุงู„ุฏุนุงุก ูˆ ู„ุง ูŠูƒุฑู‡ ุฃู† ูŠุตู„ูŠ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠู‡ุง ู„ุฎุงุตุฉ ู†ูุณู‡ ูˆ ู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ุฅู…ุงู… ุฃู‡ู„ ุงู„ุดุงู… ูˆ ูู‚ูŠู‡ู‡ู… ูˆ ุนุงู„ู…ู‡ู… ูˆ ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฃู‚ุฑุจ ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰) ู„ุทุงุฆู ุงู„ู…ุนุงุฑู ููŠู…ุง ุงู„ู…ูˆุงุณู… ุงู„ุนุงู… ู…ู† ุงู„ูˆุธุงุฆู (ุต: 151)

Para tabiโ€˜in dari negeri Syam seperti Khalid bin Maโ€˜dan, Makแธฅul, Luqman bin โ€˜ฤ€mir, dan lainnya, mereka mengagungkan malam Nisfu Syaโ€˜ban serta bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam itu. Dari merekalah orang-orang kemudian mengambil pemahaman tentang keutamaan dan pengagungan malam tersebut.

Dikatakan bahwa hal itu sampai kepada mereka melalui riwayat Israiliyat. Ketika berita tentang pengagungan malam Nisfu Syaโ€˜ban tersebar di berbagai negeri, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam:

  • Sebagian orang menerimanya dan mengikuti mereka dalam mengagungkan malam itu, termasuk sekelompok ahli ibadah dari Basrah dan lainnya.
  • Namun kebanyakan ulama Hijaz menolak hal tersebut, di antaranya โ€˜Aแนญฤโ€™ dan Ibn Abฤซ Mulaykah. Hal ini juga diriwayatkan oleh โ€˜Abd al-Raแธฅmฤn bin Zayd bin Aslam dari para fuqaha Madinah, dan itu pula pendapat para pengikut Imam Malik dan lainnya. Mereka berkata: โ€œSemua itu adalah bidโ€˜ah.โ€

Kemudian ulama Syam berbeda pendapat tentang cara menghidupkan malam Nisfu Syaโ€˜ban:

  1. Pendapat pertama: Disunnahkan menghidupkan malam itu secara berjamaah di masjid. Khalid bin Maโ€˜dan, Luqman bin โ€˜ฤ€mir, dan lainnya biasa mengenakan pakaian terbaik mereka, memakai wewangian, bercelak, lalu menghidupkan malam itu di masjid dengan ibadah sepanjang malam. Pendapat ini juga disetujui oleh Isแธฅฤq bin Rฤhawaih, yang berkata bahwa menghidupkan malam Nisfu Syaโ€˜ban secara berjamaah di masjid bukanlah bidโ€˜ah. Hal ini dinukil oleh แธคarb al-Kirmฤnฤซ dalam kitab Masฤโ€™il-nya.
  2. Pendapat kedua: Dimakruhkan berkumpul di masjid pada malam itu untuk shalat berjamaah, bercerita, dan berdoa bersama. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang menghidupkan malam itu dengan shalat secara pribadi. Pendapat ini adalah pendapat al-Awzฤโ€˜ฤซ, imam, faqih, dan ulama besar Syam.

Dan inilah pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran, insyaAllah Taโ€˜ala.

Jadi, teks ini menunjukkan bahwa tradisi peringatan Nisfu Syaโ€˜ban mula-mula berkembang di kalangan tabiโ€˜in Syam, lalu menyebar ke berbagai daerah, namun ditolak oleh banyak ulama Hijaz. Sumber ajaran ini diduga berasal dari Israiliyyat.

Keterangan mirip di atas juga diberikan oleh Imam al-Qasthallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah:

Tabi’in tanah Syam seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul, mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam Nisfu Sya’ban. Dari mereka inilah orang-orang kemudian ikut mengagungkan malam Nisfu Sya’ban. Dikatakan, bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat (kabar atau cerita yang bersumber dari ahli kitab, Yahudi dan Nasrani yang telah masuk Islam) tentang hal tersebut. Kemudian ketika perayaan malam Nisfu Sya’ban populer, orang-orang berbeda pandangan menanggangapinya. Sebagian menerima, dan sebagian lain mengingkarinya. Mereka yang memgingkari adalah mayoritas ulama Hijaz, termasuk dari mereka Atha’ dan Ibnu Abi Malikah. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari kalangan fuqaha’ Madinah menukil pendapat bahwa perayanan malam Nisfu Sya’ban seluruhnya adalah bid’ah. Ini juga merupakan pendapat Ashab Maliki dan ulama selainnya.

Hadis terkait

Memang ada beberapa hadis terkait keutamaan nishfu Syakban, namun sayangnya mayoritas atau hampir semua bernilai kalau tidak dhaif ya palsu. Ada satu hadis yang dinilai paling โ€œlumayanโ€ yakni hadits dari Abu Musa al-Asyโ€™ari :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู…ููˆุณูŽู‰ ุงู„ุฃูŽุดู’ุนูŽุฑููŠู‘ู ุŒ ุนูŽู†ู’ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู„ูŠู’ู‡ู ูˆุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู„ูŽูŠูŽุทู‘ูŽู„ูุนู ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูุตู’ูู ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ , ููŽูŠูŽุบู’ููุฑู ู„ูุฌูŽู…ููŠุนู ุฎูŽู„ู’ู‚ูู‡ู , ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู„ูู…ูุดู’ุฑููƒู ุฃูŽูˆู’ ู…ูุดูŽุงุญูู†ู.(ุณู†ู† ุงุจู† ู…ุงุฌุฉ)

Dari Abu Musa al-Asyโ€™ari, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, โ€œAllah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaโ€™ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.โ€ ( HR Ibnu Majah)

Hadis semakna juga diriwayatkan Ahmad, Ibnu Hiban, Baihaqy dan lain lain. Penilaian ulama hadis umumnya berkisar antara sahih, hasan, dan dhaif, artinya belum disepakati kesahihannya.

Mahmลซd Muhammad Khattฤb al-Subkฤซ (w. 1352 H/1933 M) penulis kitab ad-Dฤซn al-Khฤliแนฃ aw Irsyฤd al-Khalq ilฤ Dฤซn al-แธคaqq pada juz 3ย  halaman 303 menulis :

(ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุฌู…ู„ุฉ) ููƒู„ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ูู‰ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ุฏุงุฆุฑ ุฃู…ุฑู‡ุง ุจูŠู† ุงู„ูˆุถุน ูˆุงู„ุถุนู (ู‚ุงู„) ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุจู† ุงู„ุนุฑุจู‰: ู„ูŠุณ ูู‰ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ุญุฏูŠุซ ูŠุนูˆู„ ู„ุนูŠู‡ุŒ ู„ุง ูู‰ ูุถู„ู‡ุง ูˆู„ุง ูู‰ ู†ุณุฎ ุงู„ุขุฌุงู„ ููŠู‡ุงุŒ ูู„ุง ุชู„ุชูุชูˆุง ุฅู„ูŠู‡ (3) (ูˆู†ู‚ู„) ุฃุจูˆ ุดุงู…ุฉ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ู„ูŠุณ ูู‰ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ุญุฏูŠุซ ูŠุณุงูˆู‰ ุณู…ุงุนู‡ ” ูˆู‚ูˆู„ู‡ู… ” ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุถุนูŠู ูŠุนู…ู„ ุจู‡ ูู‰ ูุถุงุฆู„ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ” ู…ุญู„ู‡ ” ุฅู† ู„ู… ูŠุดุชุฏ ุถุนูู‡ ูƒู…ุง ู‡ู†ุง. ุนู„ู‰ ุฃู†ู†ุง ู„ุง ู†ู†ูƒุฑ ุงุณุชุญุจุงุจ ุฅุญูŠุงุฆู‡ุง ุจุงู„ุทุงุนุฉ ู…ุบูŠุฑู‡ุง ู…ู† ุจุงู‚ู‰ ุงู„ู„ูŠุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ูˆุฌู‡ ุงู„ู…ุดุฑูˆุน ุจู„ุง ุงุฑุชูƒุงุจ ู…ุญุฐูˆุฑ ุฃู‡ู€ (ูˆู‚ุงู„) ุฃุจูˆ ุดุงู…ุฉ: ู‚ูŠุงู… ุงู„ู„ูŠู„ ู…ุณุชุญุจ ูู‰ ุฌู…ูŠุน ู„ูŠุงู„ู‰ ุงู„ุณู†ุฉ ูˆู‡ุฐู‡ ุจุนุถ ุงู„ู„ูŠุงู„ู‰ ุงู„ุชู‰ ูƒุงู† ูŠุตู„ู‰ ููŠู‡ุง ูˆูŠุญูŠูŠู‡ุง ุงู„ู†ุจู‰ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฅู†ู…ุง ุงู„ู…ุญุฐูˆุฑ ุงู„ู…ู†ูƒุฑ ุชุฎุตูŠุต ุจุนุถ ุงู„ู„ูŠุงู„ู‰ ุจุตู„ุงุฉ ู…ุฎุตูˆุตุฉ ุนู„ู‰ ุตูุฉ ู…ุฎุตูˆุตุฉ ุฃู‡ู€.ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฎุงู„ุต ุฃูˆ ุฅุฑุดุงุฏ ุงู„ุฎู„ู‚ ุฅู„ู‰ ุฏูŠู† ุงู„ุญู‚ (3/ 303)

“Secara umum, semua hadis yang diriwayatkan tentang malam pertengahan Syaโ€˜ban berkisar antara palsu (maudhuโ€˜) dan lemah (dhaโ€˜if). Abu Bakr ibn al-โ€˜Arabฤซ berkata: Tidak ada satu pun hadis tentang malam pertengahan Syaโ€˜ban yang dapat dijadikan sandaran, baik tentang keutamaannya maupun tentang penetapan ajal di dalamnya. Maka janganlah kalian menoleh kepadanya.

Abu Shฤmah menukil darinya: Tidak ada satu pun hadis tentang malam pertengahan Syaโ€˜ban yang layak untuk didengar. Adapun perkataan sebagian orang bahwa โ€˜hadis dhaโ€˜if boleh diamalkan dalam fadฤโ€™il al-aโ€˜mฤl (keutamaan amal)โ€™, maka tempatnya adalah jika kelemahannya tidak terlalu parah, sedangkan dalam hal ini kelemahannya sangat berat. Namun, kami tidak mengingkari anjuran menghidupkan malam itu dengan ketaatan sebagaimana malam-malam lainnya, dengan cara yang sesuai syariat tanpa melakukan hal yang terlarang.

Abu Shฤmah juga berkata: Qiyฤm al-layl (salat malam) itu disunnahkan pada seluruh malam sepanjang tahun. Malam nisfu Syaโ€˜ban hanyalah termasuk sebagian malam yang memang biasa dihidupkan oleh Nabi ๏ทบ dengan salat. Yang tercela dan harus diingkari adalah mengkhususkan sebagian malam dengan salat tertentu pada tata cara khusus.”

Mengenai hukum menyambut nishfu Syakban dengan berkumpul dengan melakukan ritual bersama-sama dinyatakan makruh oleh jumhur ulama sebagaimana dijelaskan dalam al-Mausuโ€™ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah juz 2 halaman 236 di bawah ini.

ุงู„ุงูุฌู’ุชูู…ูŽุงุนู ู„ุฅููุญู’ูŠูŽุงุกู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูุตู’ูู ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ :

14 – ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑู ุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉู ุงู„ุงูุฌู’ุชูู…ูŽุงุนู ู„ุฅููุญู’ูŠูŽุงุกู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูุตู’ูู ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ุŒ ู†ูŽุตู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉู ุŒ ูˆูŽุตูŽุฑู‘ูŽุญููˆุง ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุงูุฌู’ุชูู…ูŽุงุนูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฃู’ูŽุฆูู…ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุนู ู…ูู†ู’ู‡ู (4) . ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ ุนูŽุทูŽุงุกู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุฑูŽุจูŽุงุญู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ู…ูู„ูŽูŠู’ูƒูŽุฉูŽ . ูˆูŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ุฃู’ูŽูˆู’ุฒูŽุงุนููŠู‘ู ุฅูู„ูŽู‰ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉู ุงู„ุงูุฌู’ุชูู…ูŽุงุนู ู„ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏู ู„ูู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุ› ู„ุฃููŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุงูุฌู’ุชูู…ูŽุงุนูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุญู’ูŠูŽุงุกู ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู„ูŽู…ู’ ูŠูู†ู’ู‚ูŽู„ ุนูŽู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู . ูˆูŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุฎูŽุงู„ูุฏู ุจู’ู†ู ู…ูŽุนู’ุฏูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ูู‚ู’ู…ูŽุงู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽุงู…ูุฑู ูˆูŽุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ู ุจู’ู†ู ุฑูŽุงู‡ูŽูˆูŽูŠู’ู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงุณู’ุชูุญู’ุจูŽุงุจู ุฅูุญู’ูŠูŽุงุฆูู‡ูŽุง ูููŠ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู (1) .ุงู„ู…ูˆุณูˆุนุฉ ุงู„ูู‚ู‡ูŠุฉ ุงู„ูƒูˆูŠุชูŠุฉ (2/ 236)

Berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu Syaโ€˜ban:

Mayoritas fuqaha berpendapat makruh berkumpul untuk menghidupkan malam pertengahan Syaโ€˜ban. Hal ini ditegaskan oleh ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah, bahkan mereka menyatakan bahwa berkumpul untuk itu adalah bidโ€˜ah, dan para imam wajib mencegahnya. Pendapat ini juga dikatakan oleh โ€˜Aแนญฤโ€™ bin Abฤซ Rabฤแธฅ dan Ibn Abฤซ Mulaykah.

Al-Awzฤโ€˜ฤซ berpendapat bahwa makruh berkumpul di masjid untuk salat pada malam tersebut, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah ๏ทบ maupun dari salah seorang sahabatnya tentang menghidupkan malam nisfu Syaโ€˜ban secara berjamaah.

Sedangkan Khฤlid bin Maโ€˜dฤn, Luqmฤn bin โ€˜ฤ€mir, dan Isแธฅฤq bin Rฤhawaih berpendapat bahwa disunnahkan menghidupkan malam itu dengan berjamaah.

Inti kutipan di atas adalah, mayoritas ulama (Hanafi, Maliki, serta ulama Hijaz) menyatakan makruh, bahkan bidโ€˜ah, dan harus dicegah berkumpul untuk memperingati nishfu Syakban. Sedang Al-Awzฤโ€˜ฤซ berpendapat makruh berkumpul di masjid untuk salat malam nisfu Syaโ€˜ban. Sebagian tabiโ€˜in dan Isแธฅฤq bin Rฤhawaih menganjurkan (istihbฤb) menghidupkan malam nisfu Syaโ€˜ban secara berjamaah.

Sebagai penutup kita kutip Fatwa No. 2922 (11 Juni 2014) yang Membahas hukum menghidupkan malam Nisfu Syaโ€˜ban, yang dikeluarkan Dar al-Iftaโ€™ al-Urduniyah (ุฏุงุฑ ุงู„ุฅูุชุงุก ุงู„ุฃุฑุฏู†ูŠุฉ), yaitu lembaga resmi fatwa negara Yordania.

ูˆู„ูƒู† ู†ู†ุจู‡ ู‡ู†ุง ุฅู„ู‰ ุญูƒู…ูŠู† ู…ู‡ู…ูŠู† ู†ุต ุนู„ูŠู‡ู…ุง ุงู„ุนู„ู…ุงุก:

ุฃูˆู„ุง: ุงุณุชุญุจุงุจ ุฅุญูŠุงุก ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู† ุจุงู„ุตู„ุงุฉ ุฅู†ู…ุง ูŠูƒูˆู† ูุฑุงุฏู‰ุŒ ูˆู„ูŠุณ ุฌู…ุงุนุฉุŒ ู„ุง ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆู„ุง ููŠ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณุฌุฏุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ุจุงู„ู‚ูŠุงู… ุงู„ูุฑุฏูŠ ุจูŠู† ุงู„ุนุจุฏ ูˆุฑุจู‡. ูˆู„ุฐู„ูƒ ู†ุต ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุนู„ู‰ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุฅุญูŠุงุฆู‡ุง ุฌู…ุงุนุฉุŒ ูˆุฌุฏู†ุง ุฐู„ูƒ ู„ุฏู‰ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุณุงุฏุฉ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู…ู† ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ.

ุซุงู†ูŠุง: ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชุฎุตูŠุต ู‡ูŠุฆุฉ ุฎุงุตุฉ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู†ุตู ู…ู† ุดุนุจุงู†ุŒ ุจู…ุง ุงุดุชู‡ุฑ ุนู†ุฏ ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ ุจุงุณู… “ุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฃู„ููŠุฉ”ุŒ ูˆู‡ูŠ ู…ุงุฆุฉ ุฑูƒุนุฉ ูŠู‚ุฑุฃ ููŠ ูƒู„ ุฑูƒุนุฉ ุจุนุฏ ุงู„ูุงุชุญุฉ ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุฅุฎู„ุงุต ุนุดุฑ ู…ุฑุงุชุŒ ูู‡ุฐู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฃูŠุถุง ุบูŠุฑ ู…ุดุฑูˆุนุฉุŒ ูˆุฃู†ูƒุฑู‡ุง ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู†ุณุจุชู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ุฏูŠู†ุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุตู„ูŠ ุงู„ู…ุณู„ู… ูˆุญุฏู‡ ู…ุง ุชูŠุณุฑ ู„ู‡ุŒ ูˆูŠุญุฑุต ุนู„ู‰ ูƒุซุฑุฉ ุงู„ุฏุนุงุก ูˆุณุคุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุญุงุฌุงุช.

ู‚ุงู„ ุงู„ู†ูˆูˆูŠ: “ุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ู…ุนุฑูˆูุฉ ุจุตู„ุงุฉ ุงู„ุฑุบุงุฆุจ ูˆุตู„ุงุฉ ู„ูŠู„ุฉ ู†ุตู ุดุนุจุงู† ู…ุงุฆุฉ ุฑูƒุนุฉุŒ ูˆู‡ุงุชุงู† ุงู„ุตู„ุงุชุงู† ุจุฏุนุชุงู† ูˆู…ู†ูƒุฑุงู† ู‚ุจูŠุญุชุงู†ุŒ ูˆู„ุง ูŠุบุชุฑ ุจุฐูƒุฑู‡ู…ุง ููŠ ูƒุชุงุจ ู‚ูˆุช ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ูˆุฅุญูŠุงุก ุนู„ูˆู… ุงู„ุฏูŠู†ุŒ ูˆู„ุง ุจุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ููŠู‡ู…ุง ูุฅู† ูƒู„ ุฐู„ูƒ ุจุงุทู„ุŒ ูˆู„ุง ูŠุบุชุฑ ุจุจุนุถ ู…ู† ุงุดุชุจู‡ ุนู„ูŠู‡ ุญูƒู…ู‡ู…ุง ู…ู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ูุตู†ู ูˆุฑู‚ุงุช ููŠ ุงุณุชุญุจุงุจู‡ู…ุงุ› ูุฅู†ู‡ ุบุงู„ุท ููŠ ุฐู„ูƒ” ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน ุดุฑุญ ุงู„ู…ู‡ุฐุจ (4/56). ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

โ€œNamun di sini perlu ditegaskan dua hukum penting yang telah dinyatakan oleh para ulama:

Pertama, disunnahkan menghidupkan malam Nisfu Syaโ€˜ban dengan shalat secara individu, bukan berjamaah, baik di masjid maupun di tempat lain. Ibadah ini dilakukan secara pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu, para fuqaha menegaskan makruhnya menghidupkan malam tersebut secara berjamaah, dan hal ini ditemukan dalam pendapat seluruh ulama dari empat mazhab.

Kedua, tidak boleh menetapkan bentuk khusus untuk shalat malam Nisfu Syaโ€˜ban, sebagaimana yang dikenal di kalangan sebagian orang dengan nama โ€˜shalat al-alfiyyahโ€™, yaitu seratus rakaat dengan membaca surah al-Ikhlash sepuluh kali setelah al-Fatihah di setiap rakaat. Shalat ini juga tidak disyariatkan, telah diingkari oleh para ulama, dan tidak boleh dinisbatkan kepada agama. Seorang muslim cukup shalat sendirian sesuai kemampuan, serta memperbanyak doa dan memohon kebutuhan kepada Allah.

Imam an-Nawawi berkata: โ€˜Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib dan shalat malam Nisfu Syaโ€˜ban seratus rakaat, keduanya adalah bidโ€˜ah dan kemungkaran yang buruk. Jangan tertipu dengan penyebutannya dalam kitab Qลซt al-Qulลซb dan Ihyฤโ€™ โ€˜Ulลซm ad-Dฤซn, dan jangan pula dengan hadis yang disebutkan di dalamnya, karena semua itu batil. Jangan pula tertipu dengan sebagian imam yang keliru dalam menilai keduanya lalu menulis lembaran-lembaran tentang anjuran melakukannya; sesungguhnya ia telah salah dalam hal itu.โ€™ (al-Majmลซโ€˜ Syarh al-Muhadzdzab, 4/56). Wallฤhu aโ€˜lam.โ€(https://www.aliftaa.jo/fatwa/2922)

ย Penutup

Jika mengadakan ritual khusus malam nishfu Syakban masih ada perbedaan, maka sebenarnya kita tidak perlu khawatir, bahwa tiap malam berdasar hadis sahih Allah menyediakan waktu mustajab untuk berdoa dan juga mohon ampun yakni di 1/3 akhir malam. Ingat ini datang atau terjadi setiap malam, jadi tidak perlu repot menunggu satu tahun sekali.

Perhatikan hadis sahih di bawah ini.

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุŒ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูŠูŽู†ู’ุฒูู„ู ุฑูŽุจู‘ูู†ูŽุง ุชูŽุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญููŠู†ูŽ ูŠูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ุซูู„ูุซู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุงู„ุขุฎูุฑู ูŠูŽู‚ููˆู„ู : ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ููŠ ููŽุฃูŽุณู’ุชูŽุฌููŠุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูู†ููŠ ููŽุฃูุนู’ุทููŠูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูู†ููŠ ููŽุฃูŽุบู’ููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู.ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ

Dari Abลซ Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda: โ€œTuhan kita Tabฤraka wa Taโ€˜ฤlฤ turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.โ€

Ibnu Bathal dalam syarahnya menjelaskan.

ู‡ุฐุง ูˆู‚ุช ุดุฑูŠู ู…ุฑุบุจ ููŠู‡ ุฎุตู‘ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจุงู„ุชู†ุฒู„ ููŠู‡ ุŒ ูˆุชูุถู‘ู„ ุนู„ู‰ ุนุจุงุฏู‡ ุจุฅุฌุงุจุฉ ู…ู† ุฏุนุง ููŠู‡ ุŒ ูˆุฅุนุทุงุก ู…ู† ุณุฃู„ู‡ ุŒ ุฅุฐ ู‡ูˆ ูˆู‚ุช ุฎู„ูˆุฉ ูˆุบูู„ุฉ ูˆุงุณุชุบุฑุงู‚ ูู‰ ุงู„ู†ูˆู… ูˆุงุณุชู„ุฐุงุฐ ุจู‡ ุŒ ูˆู…ูุงุฑู‚ุฉ ุงู„ุฏุนุฉ ูˆุงู„ู„ุฐุฉ ุตุนุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุนุจุงุฏ ุŒ ู„ุง ุณูŠู…ุง ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ุฑูุงู‡ูŠุฉ ูู‰ ุฒู…ู† ุงู„ุจุฑุฏ ุŒ ูˆู„ุฃู‡ู„ ุงู„ุชุนุจ ูˆุงู„ู†ุตุจ ูู‰ ุฒู…ู† ู‚ุตุฑ ุงู„ู„ูŠู„ ุŒ ูู…ู† ุขุซุฑ ุงู„ู‚ูŠุงู… ู„ู…ู†ุงุฌุงุฉ ุฑุจู‡ ูˆุงู„ุชุถุฑุน ุฅู„ูŠู‡ ูู‰ ุบูุฑุงู† ุฐู†ูˆุจู‡ ุŒ ูˆููƒุงูƒ ุฑู‚ุจุชู‡ ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ ูˆุณุฃู„ู‡ ุงู„ุชูˆุจุฉ ูู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ูˆู‚ุช ุงู„ุดุงู‚ ุนู„ู‰ ุฎู„ูˆุฉ ู†ูุณู‡ ุจู„ุฐุชู‡ุง ูˆู…ูุงุฑู‚ุฉ ุฏุนุชู‡ุง ูˆุณูƒู†ู‡ุง ุŒ ูุฐู„ูƒ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฎู„ูˆุต ู†ูŠุชู‡ ูˆุตุญุฉ ุฑุบุจุชู‡ ููŠู…ุง ุนู†ุฏ ุฑุจู‡ ุŒ ูุถู…ู†ุช ู„ู‡ ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ุงู„ุชู‰ ู‡ู‰ ู…ู‚ุฑูˆู†ุฉ ุจุงู„ุฅุฎู„ุงุต ูˆุตุฏู‚ ุงู„ู†ูŠุฉ ูู‰ ุงู„ุฏุนุงุก ุŒ ุฅุฐ ู„ุง ูŠู‚ุจู„ ุงู„ู„ู‡ ุฏุนุงุกู‹ ู…ู† ู‚ู„ุจ ุบุงูู„ ู„ุงู‡ู .)ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ ู€ ู„ุงุจู† ุจุทุงู„ (10/ 89)

โ€œIni adalah waktu yang mulia dan sangat dianjurkan. Allah Taโ€˜ala telah mengkhususkannya dengan turunnya (rahmat-Nya), serta berkenan mengabulkan doa orang yang berdoa pada waktu itu, dan memberi kepada orang yang meminta. Karena waktu itu adalah saat kesunyian, kelalaian, tenggelam dalam tidur, dan kenikmatan tidur. Meninggalkan kenyamanan dan kelezatan tidur adalah hal yang berat bagi hamba, khususnya bagi orang-orang yang hidup dalam kemewahan di musim dingin, dan bagi orang-orang yang letih dan lelah di musim ketika malam begitu singkat.

Maka siapa yang lebih memilih bangun untuk bermunajat kepada Tuhannya, merendahkan diri memohon ampunan atas dosa-dosanya, memohon agar dilepaskan dari neraka, dan meminta taubat pada waktu yang sulit iniโ€”ketika ia harus menyendiri dari kenikmatan dirinya, meninggalkan kesenangan dan ketenangan tidurnyaโ€”maka itu adalah tanda ketulusan niatnya dan kebenaran keinginannya terhadap apa yang ada di sisi Tuhannya.

Karena itu, dijamin baginya terkabulnya doa, yang selalu terkait dengan keikhlasan dan ketulusan niat dalam berdoa. Sebab Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan berpaling.โ€

Intinya, Ibn Baแนญแนญฤl menekankan bahwa bangun di waktu malam (khususnya sepertiga malam terakhir) adalah bukti keikhlasan dan kesungguhan seorang hamba, karena ia rela meninggalkan kenikmatan tidur demi bermunajat kepada Allah. Doa di waktu ini lebih dekat kepada ijabah (dikabulkan), sebab disertai dengan hati yang hadir dan niat yang tulus. (Syarแธฅ แนขaแธฅฤซแธฅ al-Bukhฤrฤซ karya Ibn Baแนญแนญฤl (10/89):

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button