KhutbahKhutbah Idul Fitri

Khutbah : Idul Fitri dan Misi Islam Rahmatan Lil Alamin

Oleh : Dr. Kyai Sumarno, S.Pd.I, M.Pd.I

📅 Jumat, 27 Maret 2026 | 8 Syawal 1447 H

Teks Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 M

IDUL FITRI DAN MISI ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

MENEGUHKAN SPIRIT PERDAMAIAN DUNIA YANG BERKEADILAN

(Oleh : Dr Kyai Sumarno, S.Pd.I, M.Pd.I)

الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ . وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ  وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ  وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

اللهُ أَكْبَرُ (×2) لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

‎اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

Ma’asyiral Kaum Muslimin & Muslimat Rahimakumullah.

Hari ini jutaan umat muslim di berbagai belahan dunia tengah bergembira mengumandangkan Takbir , Tahmid dan Tahlil sebagai wujud syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka bergembira menyambut datangnya hari kemenangan. Namun ketahuilah Allah Swt tidak menjadikan hari raya besar ini kecuali dengan dua tujuan yang agung. Pertama, agar manusia bersyukur dan bertakbir memuji Allah Ta’ala atas segala nikmat yang telah diberikan selama bulan Ramadhan. Yang mana pada bulan tersebut kita telah dimudahkan dalam melaksanakan ibadah puasa, mengamalkan sholat malam, membaca al quran, berangkat solat subuh lebih awal dan lain sebagainya.  Allah Swt berfirman :

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya : “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Yang kedua agar umat Islam merayakan hari kemenangan ini dengan rasa bahagia dan senang, namun masih dalam batas-batas syariat Islam. Berpakaian sesuai syari, berakhlak karimah dan tidak berlebihan dalam menghamburkan harta (mubadzir ). Firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah : 77

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوْٓا اَهْوَاۤءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ ࣖ

Artinya : “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (urusan) agamamu tanpa hak. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kaum yang benar-benar tersesat sebelum kamu dan telah menyesatkan banyak (manusia) serta mereka sendiri pun tersesat dari jalan yang lurus.”

اللهُ أَكْبَرُ (×2) لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ,  اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Kaum Muslimin & Muslimat Rahimakumullah.

Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad as-Syakir al-Khuwairy (salah satu ulama abad ke-13) dalam kitab Durratun Nashihin halaman 278 menjelaskan salah satu hadits riwayat Anas bin Malik yang mengisahkan sosok anak yatim yang bersedih di hari raya Idul Fitri. Kemudian, karena iba, Rasulullah Saw pun mengasuhnya. Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah Saw berangkat untuk melaksanakan shalat Id. Di perjalanan, Nabi melihat begitu banyak anak bermain dengan cerianya. Tapi, Rasulullah terkejut begitu di hadapannya ada seorang anak kecil seorang diri dengan pakaian kumal sembari menangis sesegukan. Merasa iba, Rasulullah Saw pun bertanya: “Wahai anak kecil, apa yang membuatmu menangis. Kenapa tidak ikut bermain bersama teman-temanmu?”

Anak itu menjawab: “Wahai tuan, ayahku telah meninggal saat mengikuti suatu peperangan bersama Rasulullah. Setelah itu, ibuku menikah lagi dan memakan semua harta-hartaku. Lalu bapak tiriku mengusirku dari rumah. Sejak itu, aku pun tidak lagi memiliki makanan, minuman, pakaian dan rumah. Ketika telah sampai hari ini (Idul Fitri), aku melihat begitu banyak anak berbahagia dengan ayah dan ibu mereka. Sebab itulah tuan saya sangat merasa bersedih dan menangis seperti ini.” Setelah mendengar penjelasan anak yatim tadi, Rasulullah Saw kemudian berkata kepada anak tersebut. “Wahai anak kecil, bersediakah jika aku menjadi bapakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali menjadi pamanmu, Hasan dan Husein menjadi kedua saudara laki-lakimu, dan Fatimah menjadi saudara perempuanmu?,” tanya Rasulullah Saw.

Setelah mendapatkan tawaran tersebut akhirnya anak itu pun tahu, bahwa laki-laki yang di hadapannya itu adalah Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin aku tidak senang wahai Rasulullah, jawab sang anak dengan penuh gembira. Nabi pun membawanya pulang ke rumahnya. Memberinya pakaian yang indah, memberi makan sampai kenyang, menghiasinya dan memberinya minyak wangi yang harum. Sekarang, anak yatim itu bisa bermain dengan penuh tawa bahagia bersama teman-teman seusianya. Melihat itu, anak-anak yang lain melihatnya penasaran: “Bukannya engkau yang dulu menangis, mengapa sekarang terlihat begitu bahagia?” tanya mereka penasaran. Anak yatim itu menjawab: “Memang, dulu aku kelaparan, tapi sekarang aku kenyang. Dulu pakaianku buruk, kini sudah tidak lagi. Dulu aku seorang yatim, tapi kini Rasulullah adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudara laki-lakiku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Bagaimana mungkin aku tidak Bahagia.

Begitu Akhlak mulia Rasullah Saw  dalam  kepedulian terhadap sesama dihari yang mulia dan penuh dengan kebahagiaan. Mari kita Bersama-sama, jadikan momen Idul Fitri yang penuh bahagia ini, sebagai momen berbagi kebahagiaan terhadap sesama. Momen Idul Fitri merupakan momen berbahagia dan istimewa. Tapi akan lebih istimewa lagi jika kebahagiaan itu juga dirasakan oleh orang lain.​​​​

اللهُ أَكْبَرُ (×2) لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ,  اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Kaum Muslimin & Muslimat Rahimakumullah.

Saat ini (per awal 2026), beberapa wilayah dibelahan negara didunia sedang terjadi konflik, utamanya yang masih aktif berperang meliputi Rusia-Ukraina,  konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel, Palestina, Lebanon, Yaman, serta perang yang terbaru antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Konflik di Timur Tengah telah menjadi salah satu isu global yang paling kompleks dan berkepanjangan dalam sejarah modern, memberikan dampak signifikan pada stabilitas politik, ekonomi, dan sosial dunia. Tentu konflik berkepanjangan ini menyebabkan banyak memakan korban diantaranya adalah anak-anak yang tidak berdosa.

Jauh nan disana ada suara perdamaian yang diserukan dengan nada yang lirih dari seorang remaja Bangladesh yang menggema ke seluruh penjuru dunia. Karya seni berjudul “The Cry for Peace” yang dibuat oleh Tasfiha Tahsin, menggambarkan doa seorang anak di tengah kobaran perang, berhasil menyentuh hati jutaan orang hingga terpilih sebagai pemenang utama dari 15.932 karya yang dikirim dari 40 negara. Dalam lukisan Tasfiha, seorang anak tampak berdoa dengan mata terpejam dan air mata yang meleleh di pipinya sementara tank, misil, rudal dan bangunan-bangunan yang tadinya berdiri kokoh terbakar dan runtuh, serta kawat berduri mengelilinginya. Burung merpati putih yang muncul di tengah asap tebal, simbol perdamaian di dalam mata batin dan mata hati, serta bendera-bendera dunia menegaskan harapan universal akan akhir konflik yang diharapkan segera terjadi. “Dari tengah kehancuran, ada suara sunyi yang memohon perdamaian,” kata Tasfiha dalam pidatonya. Anak itu mewakili jutaan orang yang mendambakan kehidupan tanpa ketakutan. Kata ‘please’ adalah jeritan emosional dari harapan anak-anak manusia dideretan negeri yang sedang dilanda konflik pepererangan. Mereka anak-anak tidak berdosa harus menanggung akibat dari peperangan yang terjadi.

Setiap anak datang ke dunia dengan hati yang lembut dan penuh harapan. Mereka percaya pada orang dewasa di sekitarnya untuk merasa aman, dicintai, dan dihargai. Karena itu, perlindungan anak bukan hanya kewajiban tetapi juga bentuk cinta yang paling tulus. Dengan menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan bebas kekerasan, kita membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Anak yang merasa dilindungi akan berani mengeksplorasi, belajar, mencoba hal baru, dan mengembangkan potensinya tanpa rasa takut. Perlindungan anak dimulai dari hal sederhana: hadir sebagai pendengar yang baik, mengajarkan batasan yang sehat, menjaga tubuh dan emosinya, serta merespons setiap tanda ketidaknyamanan dengan empati. Ketika kita memberi rasa aman, kita sedang membangun masa depan yang lebih kuat bagi mereka. Mari bersama menjaga setiap anak agar tetap ceria, terlindungi, dan bertumbuh di lingkungan yang menghargai hak-haknya. Karena perlindungan terbaik selalu dimulai dari rumah, dari sekolah, dan dari hati kita. Suatu ketika, Nabi Muhammad Saw pernah berlama-lama dalam sujudnya. Sesudah shalat, para sahabat pun bertanya. “Ya Rasulullah, mengapa engkau berlama-lama dalam sujud?” Kemudian, Rasul pun menjawab bahwa hal itu karena cucunya sedang berada di atas pundaknya. Dalam kisah lain, Nabi Muhammad Saw sedang menggendong anak kecil. Tiba-tiba, si kecil pipis di pelukan Rasulullah. Orang tua si kecil itu memarahi bocah itu sambil membentaknya dengan kasar. Nabi Saw kemudian mengingatkan, “Kotoran yang menempel di bajuku akan hilang seketika bila dicuci, tapi sakit hati si anak itu karena bentakanmu, tidak akan mudah hilang.”

اللهُ أَكْبَرُ (×2) لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ,  اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Kaum Muslimin & Muslimat Rahimakumullah.

Dari dua kisah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw sangat mencintai anak-anak. Rasullullah Saw tidak membeda-bedakan kasih sayangnya walaupun itu terhadap anak orang lain. Kasih sayang dan cinta terhadap anak, memang tidak boleh pandang bulu. Anak-anak sudah seharusnya mendapatkan kasih sayang dari siapa pun, tak hanya dari orang tuanya semata! Kita tentu amat sedih mendengar ada orang tua yang menelantarkan anak, menganiaya, bahkan kesadisan semisal tega membunuh anaknya sendiri. Kita tentu berharap, tak akan pernah mendengar lagi kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh siapa pun dan justru sangat berharap semua orang akan lebih menyayangi anak sebagaimana dianjurkan Rasulullah Saw dalam sabdanya

لَيْسَ مِنَّا؛ مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا

Artinya : “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil.” (HR. Tirmidzi no. 1919)

Kasih sayang, kedamaian dan keadilan adalah dua elemen yang tidak terpisahkan, di mana keadilan (kesetaraan hak, penegakan hukum tanpa pandang bulu) menjadi fondasi utama untuk mencapai kedamaian yang sejati dan berkelanjutan. Masyarakat yang adil mengurangi konflik, sementara kedamaian tanpa keadilan sering kali rapuh dan memicu akar kekerasan. Jika kita membaca Al-Quran dan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kita dapat menyimpulkan bahwa inti ajaran Islam adalah kedamaian. Bahkan, kedamaian adalah prasyarat untuk mewujudkan cita-cita yang diperjuangkan Islam yang berkeadilan, mulai dari urusan spiritual, pengembangan intelektual, pembangunan karakter, reformasi sosial, kegiatan pendidikan dan dakwah, hanya dapat dicapai dalam suasana damai dan harmonis.

Menurut Islam, perdamaian bukan sekadar tidak berperang. Perdamaian harus diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan kita kapanpun dan dimanapun. Karena hanya suasana damai misi mulia Islam dapat diwujudkan. Karena alasan inilah Nabi Muhammad Saw berusaha keras untuk menciptakan perdamaian yang berkeadilan dengan segala cara. Establishing peace at all cost. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, ada banyak referensi yang membuktikan bahwa Islam adalah agama perdamaian, keadilan, cinta, dan persaudaraan. Namun demikian, diera moderen sekarang ini citra Islam tidak jarang dinodai oleh realitas kehidupan umat Islam. Realitas dunia Islam tidak seindah cita-cita Islam yang terlukis di dalam al-Quran dan sunnah. Islam tidak jarang disalah fahami karena manifestasi Islam dalam pelataran sejarah peradaban Islam tidak seharum dengan cita-cita ideal Islam dalam Quran dan sunnah. Inilah tantangan yang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini.

Akan sangat menyedihkan jika kita hanya gencar mempromosikan Islam yang damai dan berkeadilan, tetapi kehidupan sosial kita penuh dengan konflik, karena bagi orang lain, Mereka tidak membaca Al-Quran dan tradisi kenabian, mereka hanya melihat nilai-nilai yang dipraktekkan oleh masyarakat Muslim, peradaban yang telah kita bangun dan capai. Dengan kata lain, perdamaian dan keadilan tidak hanya dipromosikan dan didiskusikan dalam seminar-seminar, dibicarakan dalam ceramah-ceramah umum oleh para cendekiawan atau pemuka agama, tetapi juga harus dihayati dan dipraktekkan dalam masyarakat. Hal ini harus menjadi inspirasi dan kekuatan pendorong dalam pembentukan nilai berbasis Islam dalam masyarakat Islam. Masyarakat Muslim harus berada di garis depan untuk terus mendukung dan menciptakan sistem sosial yang damai yang berkeadilan dengan cara apa pun di negara mana pun. Semoga kita bisa terus mengamalkan ajaran agama dengan wasathiy, terus mensyukuri nikmat Allah Swt berupa Indonesia yang multikultur ini dengan beragama yang moderat dan damai. Semoga Indonesia terus rukun, damai, adil dan maju, senantiasa dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala. Amin ya Rabbal alamin

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kepada  Allah Swt dan bermohon hanya kepada Allah, yakinlah bahwa hanya Allahlah  yang bisa mengabulkan permohonan hamba-hambaNya

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ، حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ، حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، رَبَّـنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَي نَبِيِّكَ وَ رَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ الطَّاهِرِ الزَّكِيِّ وَ عَلَي آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَ أَصْحَابِهِ الْمُتَّـقِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ، وَ الُمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، وَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْـن.

Ya Tuhan kami, berilah kami ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan pada ibu bapak-kami serta anak-anak kami agar dapat mengerjakan amal sholeh yang engkau ridhai, dan masukanlah kami dengan rahmat-Mu ke dalam hamba-hamba yang shaleh

Allahuma ya Allah Ya Rahmaan ya Rahiim Kami sangat bersyukur ya Allah Engkau berikan kami umur sampai saat ini , Engkau berikan kami Kesehatan Engkau berikan kami keselamatan.

Ya Allah Ya Rahmaan Ya Rahiim

Berikanlah kami Ilmu agar kami dapat mengatasi persoalan hidup kami

Berikanlah kami Iman agar kami tetap tegar mengarungi kehidupan

Berikanlah kami Ihsan agar kami senantiasa berada di jalanMu yang lurus dan benar

Berikanlah kami kekuatan agar kami mampu untuk terus melangkah

Berikanlah kami rezeki agar kami mampu untuk bergerak

Ya Allah Engkaulah Tuhan kami

Yang kami sembah dan kami puja puji Yang kami cintai dan kami sayangi UntukMu kami hidup dan untukMu kami beribadah

Terimalah amalan ibadah kami, Terimalah puasa dan sholat kami, Terimalah dzikir dan zakat kami, Terimalah bacaan Quran kami

Berikanlah kami kekhusyuan dalam beribadah kepadaMu

Berikanlah kami kekuatan dalam bekerja dengan mengharap ridhoMu

Ya Allah

Hanya kepadaMu kami memohon dan meminta, Hanya kepadaMu kami berkeluh kesah dan mengadu, Hanya kepadaMu kami berharap dan berdoa, Jadikan hidup kami selalu berada dijalanMu, Jalan yang Engkau ridhoi bukan jalan yang Engkau murka

Duhai Allah

Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Sayangilah kami dan anak keturanan kami, Sayangilah Ibu Bapak kami Sebagaimana mereka menyayangi dan mengasihi kami sewaktu kami masih kecil

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْـتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّـا وَ اغْفِرْ لَنَا وَ ارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَة،ً إِنَّكَ  أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا .رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَ صِيَامَنَا وَ نُسُكَنَا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ .رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ .سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِـزَّةِ عَمَّا يَصِـفُوْنَ، وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِـيْنَ،  وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button