Khutbah Jum’at : Menjaga Mimbar Kokoh dalam Ukhuwah, Dewasa dalam Berbeda
Oleh : Pujiono (Mahasiswa S-3 Pendidikan Agama Islam UMS /Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah Kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, Dengan sebenar benarnya taqwa. Dari ketaqwaan itulah akanl ahir persatuan, ukhuwah , toleransi yang bermanfaat bagi umat. Terlebih saat ini bulan suci Ramadhan, Ramadhan adalah bulan pembinaan iman, penguatan takwa, dan pemersatu umat. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kedewasaan dalam bersikap.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa yang lahir dari Ramadhan seharusnya memperkuat ukhuwah, bukan menambah perpecahan di tengah perbedaan pandangan yang kerap menghangat, perlunya kita menjaga mimbar ini tetap kokoh dalam ukhuwah meski ada perbedaan antar jamaah. Mimbar adalah simbul ukhuwah persatuan umat tempat disampaikanya kebenaran bukan untuk memperuncing perbedaan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mimbar masjid pada bulan Ramadhan harus menjadi sumber kesejukan, pencerahan, dan persatuan. Dakwah tidak boleh berisi provokasi, celaan, atau merendahkan pihak lain.
Allah memerintahkan persatuan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah dan jangan bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini bukan sekedar seruan, tetapi perintah tegas agar umat Islam tidak terpecah-pecah hanya karena perbedaan pandangan fiqhiyah. Perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah adalah hal yang wajar, tetapi persaudaraan harus tetap dijaga.
Allah juga berfirman Hujurat Ayat 10 :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ramadhan melatih kita untuk dewasa dalam berbeda. Ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan, jumlah rakaat tarawih, qunut atau tidak, dan lainnya. Namun semua itu tidak boleh merusak ukhuwah. Kita harus menyadari memang Islam itu satu dalam syariat namun, Beragam dalam Fiqihyat. Dan yang kita lihat sepanjang ini berpedaan terjadi dalam ijtihad fiqih. Terlebih nabi kita Muhammad SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sikap dewasa dalam berbeda adalah buah dari akhlak dan ilmu. Kedewasaan dalam berbeda berarti :
1. Tidak menyalahkan bahkan sampai mengkafirkan sauadara kita yang berbeda
2. Tidak harus Bersama-sama dalam ibadah, mengormati perbedaan itu ya ukhuwah
3. Tidak membawa masjid ajang provokasi / jual kata kata bahkan sampai ada yang berani berdusta hanya demi sebuah argumentasi
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Artinya, puasa harus membentuk akhlak yang baik dalam lisan dan sikap. Semua ibadah perilaku diorentasikan kepada Allah SWT.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari jadikan mimbar, masjid, dan Ramadhan ini sebagai sarana memperkuat persaudaraan, memperluas toleransi, dan menebarkan rahmat bagi semua. Ramadhan adalah momentum menyatukan hati umat. Jangan sampai kita rajin ibadah tetapi lalai menjaga persaudaraan.
Allah mengingatkan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kalian berselisih, karena kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Umat Islam akan kuat bila bersatu, dan akan lemah bila saling bermusuhan.
Marilah kita jaga mimbar tetap kokoh dalam ukhuwah, santun dalam dakwah, dan dewasa dalam menghadapi perbedaan, khususnya di bulan suci Ramadhan ini.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua dan doa
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا. أَمَّا بَعْدُ:
إِنَّ اللهَ وَمَلآَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُواْ صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ




