AqidahArtikelBuletinFiqhTuntunanWacana Pemikiran Islam
Trending

Menyongsong Ramadan: Antara Sunnah Yang Sahih Dan Mitos Di Bulan Sya’ban

 

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ البقرة: ١٩٧

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS al-Baqarah[2]: 197)

Menyongsong Ramadhan dengan bersiap diri bulan sya’ban merupakan tradisi yang dianjurkan oleh Nabi SAW. Dan dalam ayat di atas (QS al-Baqarah: 197), ditegaskan Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin untuk berbekal dalam menghadapi momen-momen penting, dengan bekal takwa. Oleh karena itu, ayat ini relevan terutama bagi umat muslim dalam menghadapi bulan ramadhan yang sebentar lagi tiba. Bulan Sya’ban sering kali disebut sebagai “bulan yang terlupakan” karena letaknya yang terjepit di antara dua bulan besar, yaitu Rajab dan Ramadan. Namun, bagi seorang mukmin yang cerdas, Sya’ban adalah pintu gerbang sekaligus masa “pemanasan” terbaik sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Secara etimologi, kata Sya’ban berasal dari kata Sya’aba yang berarti memancar atau berpencar. Dinamakan demikian karena pada bulan ini, bangsa Arab zaman dahulu biasanya berpencar (berkelompok) untuk mencari sumber air setelah berakhirnya bulan Rajab yang termasuk bulan haram (bulan yang dilarang perang).

A.     KEUTAMAAN SYA’BAN

Banyak orang terjebak pada euforia Rajab atau langsung melompat ke Ramadan, sehingga Sya’ban terlewatkan. Padahal ada banyak keutamaan Sya’ban Berdasarkan Hadis Sahih. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus melalui landasan hadis sahih berikut:

1.      Bulan Pelaporan Amal Tahunan

Sya’ban adalah waktu di mana laporan tahunan amal kita diangkat ke hadirat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

عن أسامة بن زيد, قال رسول الله صعلم: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan tersebut (Sya’ban) adalah bulan yang manusia lalaikan, terletak di antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam. Maka aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, Hasan).

2.      Puncak Latihan Puasa Rasulullah SAW

Nabi SAW menjadikan bulan ini sebagai ajang latihan intensif dengan memperbanyak puasa sunnah. Aisyah RA menceritakan:

أنَّ عائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها، حَدَّثَتْهُ قالَتْ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi SAW tidak pernah melakukan puasa sunnah dalam sebulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Beliau (hampir) berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR. Bukhari & Muslim).

3.      Ampunan di Malam Nisfu Sya’ban

Allah SWT memberikan perhatian khusus pada pertengahan bulan ini bagi hamba-Nya yang bersih hatinya.

عن معاذ بن جبل قال رسول الله صعلم:يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah muncul pada malam Nisfu Sya’ban, maka Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan (sedang bersengketa/dendam).” (HR. Ibnu Majah, Shahih).

4.      Batas Akhir Qadha Puasa

Sya’ban adalah waktu krusial bagi mereka yang masih memiliki tanggungan puasa tahun lalu. Aisyah RA berkata:

عن عائشة أم المؤمنين قال رسول الله صعلم:كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

“Aku dahulu memiliki tanggungan hutang puasa Ramadan, dan aku tidak mampu meng-qadha-nya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari & Muslim).

B.     WASPADA MITOS, KHURAFAT, DAN HADIS BERMASALAH

Di tengah masyarakat, berkembang berbagai keyakinan yang sebenarnya didasarkan pada riwayat Dhaif (Lemah) atau bahkan Maudhu’ (Palsu). Berikut adalah poin-poin yang harus diluruskan:

1.      Mitos “Bulan Arwah” & Roh Pulang ke Rumah

Ada keyakinan bahwa roh leluhur pulang ke rumah dan menunggu sedekah di depan pintu. Hal ini sering merujuk pada hadis Maudhu’ (Palsu):

إِنَّ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ تَأْتِي فِي كُلِّ جُمُعَةٍ وَفِي يَوْمِ عِيْدٍ، فَتَقِفُ عَلَى أَبْوَابِ بُيُوتِهِمْ، فَيُنَادِي كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِصَوْتٍ حَزِينٍ: يَا أَهْلِي وَيَا أَوْلَادِي وَيَا أَقْرِبَائِي، حَنُّوا عَلَيْنَا بِصَدَقَةٍ

“Sesungguhnya roh orang mukmin datang setiap malam Jumat dan hari raya. Mereka berdiri di depan pintu rumah mereka dan berseru dengan sedih: ‘Wahai keluargaku… belas kasihanilah kami dengan sedekah…'”

Status hadis ini adalah Maudhu’ (Palsu). Para ulama hadis menegaskan bahwa teks ini tidak memiliki sanad (rantai perawi) yang bersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Ini adalah perkataan yang dibuat-buat dan tidak ada dalam kitab-kitab hadis muktabar. Dan narasi hadis palsu ini bertentangan dengan konsep Alam Barzakh dalam Al-Qur’an dan Hadis Sahih, di mana ruh orang mukmin berada dalam kenikmatan (fii ‘illiyyin) dan ruh orang kafir dalam siksaan (fii sijjin). Mereka memiliki alam tersendiri dan tidak bisa “bebas” mondar-mandir ke alam dunia. Sehingga roh orang yang sudah meninggal berada di alam Barzakh dan tidak bisa kembali ke dunia (QS. Al-Mu’minun: 100). Adapun berdoa untuk mereka adalah sunnah, namun meyakini kehadiran fisik mereka adalah khurafat. Mitos “roh pulang” ini subur karena bercampur dengan tradisi pra-Islam di Nusantara yang menghormati arwah leluhur (animisme/dinamisme), sehingga perlu untuk diluruskan.

2.      Mitos Penetapan Ajal di Malam Nisfu Sya’ban

Sering diyakini bahwa daftar kematian diputuskan di bulan ini, didasarkan pada hadis Dhaif (Lemah):

تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْكِحُ وَيُولَدُ لَهُ ، وَقَدْ أُخْرِجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

“Ajal diputuskan dari Sya’ban ke Sya’ban berikutnya. Hingga ada seseorang yang menikah, padahal namanya telah keluar dalam daftar orang mati.”

Status hadis ini adalah Dhaif/Mursal (Lemah). Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Dunya. Karena sifatnya yang mursal (terputus sanadnya), hadis ini tidak bisa dijadikan dasar penetapan hukum atau aqidah yang pasti. Dan yang benar: isi hadis ini bertentang dengan Alqur’an, karena penetapan takdir tahunan terjadi pada malam Lailatul Qadr (QS. Ad-Dukhan: 3-4), bukan di bulan Sya’ban.

3.      Shalat Khusus 100 Rakaat (Shalat Alfiyah)

Ritual shalat khusus pada malam Nisfu Sya’ban didasarkan pada hadis Maudhu’ (Palsu). Disebut Shalat Alfiyah (Shalat Seribu), karena membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali dalam 100 raka’at. Para ulama hadis, termasuk Imam Al-Nawawi dan Ibnu Al-Jauzi, menegaskan bahwa shalat ini adalah bid’ah yang muncul belakangan.

يَا عَلِيُّ، مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مِائَةَ رَكْعَةٍ… إِلَّا قَضَى اللَّهُ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ

“Wahai Ali, barangsiapa shalat pada malam Nisfu Sya’ban 100 raka’at… maka Allah akan mengabulkan semua hajatnya.”

Status hadis ini adalah Maudhu’ (Palsu). Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadis ini dalam kitabnya Al-Maudhu’at (Kumpulan Hadis-Hadis Palsu). Yang benar: Tidak ada shalat khusus di malam Nisfu Sya’ban. Shalat malam (Tahajud) tetap dianjurkan tanpa ada tata cara baru yang tidak diajarkan Nabi.

4.      Mitos Mandi Besar (Keramas) Sebelum Ramadan

Keyakinan bahwa seseorang harus mandi besar (“padusan”) di akhir Sya’ban agar puasa sah sering dikaitkan dengan hadis Maudhu’ (Palsu).

طَهِّرُوا ثِيَابَكُمْ وَأَشْعَارَكُمْ فِي آخِرِ شَعْبَانَ لِتَدْخُلُوا رَمَضَانَ طَاهِرِينَ

“Sucikanlah pakaianmu dan rambutmu (mandilah) di akhir Sya’ban agar kalian memasuki Ramadan dalam keadaan suci.”

مَنِ اغْتَسَلَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يُصِبْهُ مَرَضٌ فِي تِلْكَ السَّنَةِ

“Barangsiapa yang mandi pada malam pertama bulan Ramadan, maka ia tidak akan ditimpa penyakit pada tahun tersebut.”

Dua teks di atas yang sering disebut hadis tetapi tidak ada asalnya (Laa Ashla Lahu). Kalimat ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis primer maupun sekunder. Ini kemungkinan besar adalah perkataan orang (atsar) atau hikmah lokal yang kemudian dinisbatkan secara keliru kepada Nabi SAW.

Sebenarnya, mandi untuk kebersihan adalah mubah (boleh). Namun, menjadikannya ritual wajib atau syarat sah puasa adalah kekeliruan, karena mandi wajib hanya berlaku bagi mereka yang dalam keadaan junub, haid, atau nifas. Lalu mengapa Mitos Mandi Sya’ban Ini Begitu Kuat? Hal ini paling tidak ada tiga alasan, yaitu: Pertama, Sinkretisme Budaya. Di Indonesia, tradisi Padusan atau Wudhu Ramadan berakar dari tradisi mensucikan diri dengan air di sungai atau sumber mata air. Tradisi ini kemudian “diislamkan” dengan anggapan bahwa masuk bulan suci harus dalam keadaan suci secara fisik (keramas). Kedua, Analogi yang Keliru (Qiyas Ma’al Fariq). Ada orang yang menyamakan masuknya Ramadan dengan masuknya hari Jumat atau hari Raya (yang memang disunnahkan mandi). Namun, dalam kaidah fiqh, ibadah tidak boleh dibuat-buat berdasarkan logika semata tanpa dalil (tauqifiyyah). Ketiga, Salah Paham Makna “Thaharah”. Perintah untuk bertaubat (mensucikan hati) di bulan Sya’ban sering diterjemahkan secara harfiah menjadi mandi fisik menggunakan sabun dan sampo.

C.     PERSIAPAN MENYELURUH MENUJU RAMADAN

Agar tidak kaget saat Ramadan tiba, lakukan “pemanasan” di bulan Sya’ban dengan langkah berikut: Pertama, Persiapan Spiritual (Ruhiyah). Perbanyak istighfar dan bertaubat. Hilangkan rasa dengki dan dendam agar ampunan Allah di Nisfu Sya’ban tidak tertahan. Kedua, Persiapan Fisik (Jasmaniyah). Latih kembali ketahanan tubuh dengan puasa sunnah. Pastikan semua hutang puasa tahun lalu sudah terbayar. Ketiga, Persiapan Ilmu (Ilmiyah). Baca kembali hukum-hukum puasa agar ibadah kita tidak sekadar menahan lapar, tapi juga sesuai tuntunan syariat. Keempat, Manajemen Target (Maliyah & Amaliyah): Tentukan target yang realistis, misalnya ingin khatam Al-Qur’an atau rutin sedekah subuh.

Akhirnya, Sya’ban adalah masa tanam, Ramadan adalah masa panen. Jangan biarkan bulan ini berlalu dengan kesibukan ritual yang tidak berdasar (khurafat/mitos). Mari kita fokus pada amalan yang Sahih seperti memperbanyak puasa, tilawah, dan membersihkan hati, serta berlandasan ilmu yang benar bukan mitologi.

ditulis oleh Agus Miswanto, MA (Pembina Pengajian di beberapa tempat di Kab Magelang, Dosen UNIMMA, DPS Lazismu Jawa Tengah).

Agus Miswanto

Anggota Dewan Pengawas Syariah Lazismu Jawa Tengah, dosen hukum Islam di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button