Khutbah Jum’at : Ganjil Sama Dengan Genap? Muhasabah Menjemput Lailatul Qadr

GANJIL SAMA DENGAN GENAP ?
MUHASABAH MENJEMPUT LAILATUL QADR
Oleh : Pujiono
(Mahasiswa S-3 Pendidikan Agama Islam UMS /Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Saat ini kita telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam-malam yang sangat istimewa karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
(QS. Al-Qadr: 1–3)
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam hadis, Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Muhammad bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
(رواه البخاري)
Artinya: “Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Namun dalam realitas umat Islam, terkadang awal Ramadhan berbeda seprti tahun ini . Ada yang memulai puasa lebih dahulu, ada yang memulai sehari setelahnya. Akibatnya, hitungan malam ganjil pun bisa berbeda.
Malam yang ganjil bagi sebagian orang bisa menjadi genap bagi yang lain.
Lalu muncul pertanyaan: Lailatul Qadr turun pada ganjil yang mana?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di sinilah hikmah besar yang Allah sembunyikan dalam Ramadhan. Seakan Allah mengajarkan kepada kita bahwa ibadah tidak boleh dibatasi hanya pada satu malam saja.
Dalam tradisi orang Jawa ada istilah “dipapak”, yaitu dipotong atau dibatasi. Kadang ada orang yang hanya menunggu malam tertentu saja, misalnya malam 21, 23, atau 27, lalu menganggap malam lainnya tidak/kurang penting. Padahal Allah Sembunyikan rahasia lailatul qdr agar umat Islam terus Istiqamah dalam ibadah. Beribadah sepanjang hari sepuluh malam yang terakhir. Karena itu Jadikan perbedaan hitungan ini justru sebagai pengingat dan muhasabah Bersama terus belajar, terbuka dan terus beribadah tiap malam semakin luas.
Rasulullah SAW memberi contoh Ketika masuk sepuluh malam terakhir, beliau meningkatkan ibadahnya secara total. Beliau lebih banyak menghidupkan malam dengan Shalat, doa, dzikir dan membangunkan keluarganya beribadah.
Dalam hadis disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak hanya fokus pada satu malam saja, tetapi menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir. Sejak awal sebelum Ramadhan awal tengah hingga Akhir memiliki etos semangat dan niat untuk menggapai kemulian itu. Allah Maha mengetahui setiap hati manusia, mana yang bersungguh sunguh “teteken Ibadah kanthi Tekun Mesthi bakale ketekan “ Dapat rahmat Allah SWT.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Karena itu, perbedaan hitungan ganjil dan genap seharusnya tidak membuat kita bingung, tetapi justru menjadi muhasabah bagi kita semua. Semangat terus beribadah dengan tulus dan iklhas mengharap Ridha Allah Semata.
Pesan Ramadhan sangat jelas:
Jangan berburu satu malam saja, tetapi hidupkan semua malam. Siapa tahu justru malam yang kita anggap biasa itulah malam turunya lailatul qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Perbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir, istighfar, dan doa. Karena siapa tahu malam yang kita anggap biasa itulah malam turunnya Lailatul Qadr.
قال الله تعالى:
وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
(محمد: ٣٣)
Artinya: “Dan janganlah kalian merusak amal-amal kalian.” (QS. Muhammad: 33)
Maka jangan sampai semangat ibadah kita setengah-setengah, hanya ramai pada malam tertentu saja.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita jadikan sepuluh malam terakhir Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ibadah. Jangan sampai kesempatan besar ini berlalu begitu saja.
Rasulullah SAW mengajarkan doa yang sangat dianjurkan dibaca ketika berharap mendapatkan Lailatul Qadr:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk istiqamah beribadah hingga akhir Ramadhan, tidak malas, tidak menunda, dan tidak membatasi ibadah hanya pada malam tertentu saja.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua dan doa
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا. أَمَّا بَعْدُ:
إِنَّ اللهَ وَمَلآَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُواْ صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ




