KhutbahKhutbah Gerhana

Khutbah Gerhana Bulan: Merenungi Tanda Kebesaran Allah di Antara Presisi Kosmos dan Peringatan Ilahi

Gerhana Bulan Total 7 September 2025

📅 Ahad, 29 Maret 2026 | 10 Syawal 1447 H

Bagian I: Mukadimah (Pembukaan Rukun Khutbah)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memperbaharui dan meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan yang mulia ini, kita akan merenungi salah satu tanda kebesaran-Nya yang akan segera kita saksikan, sebuah fenomena agung yang menjadi momentum untuk mempertebal ketakwaan kita, menyadari betapa kecil dan lemahnya diri ini di hadapan kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa.

Allah SWT telah meletakkan fondasi bagi seluruh perenungan kita dalam firman-Nya yang singkat namun padat makna di dalam Surah Ar-Rahman. Firman ini menjadi kunci untuk memahami harmoni antara ilmu pengetahuan modern dan wahyu ilahi. Allah berfirman:

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ‏

Artinya: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” 1

Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa pergerakan benda-benda langit yang kita saksikan bukanlah sebuah kebetulan atau peristiwa acak. Kata husban (حُسْبَانٍ) dalam ayat ini bermakna perhitungan yang sangat teliti, kalkulasi yang presisi, atau sebuah sistem matematis yang sempurna. Dengan demikian, Al-Qur’an sejak awal telah membingkai seluruh fenomena alam, termasuk gerhana, dalam kerangka keteraturan ilahiah. Kemampuan ilmu astronomi modern untuk memprediksi waktu gerhana hingga ke tingkat detik sesungguhnya bukanlah penyingkapan atas kelemahan wahyu, melainkan justru menjadi bukti empiris yang mengagumkan akan kebenaran husban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

 

Bagian II: Ayat Kauniyah yang Terprediksi: Harmoni Sains dan Wahyu

Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah,

Insya Allah, pada malam yang terbentang antara tanggal 7 dan 8 September 2025, langit di seluruh wilayah Indonesia akan dihiasi oleh sebuah fenomena astronomi yang luar biasa: Gerhana Bulan Total.2 Peristiwa ini, yang juga dikenal dengan sebutan Blood Moon atau Bulan Merah Darah, akan menjadi sebuah ayat kauniyah—tanda kekuasaan Allah yang terhampar di alam semesta—yang dapat kita saksikan secara serentak, menjadikannya sebuah momen refleksi berskala nasional.4

Secara ilmiah, proses terjadinya gerhana bulan dapat dijelaskan dengan sangat jelas sebagai bagian dari sunnatullah—hukum-hukum alam yang Allah ciptakan dengan konsisten dan dapat dipelajari. Fenomena ini terjadi ketika Bumi berada pada posisi yang lurus di antara Matahari dan Bulan.6 Akibatnya, bayangan inti Bumi yang disebut umbra akan jatuh menutupi seluruh permukaan Bulan, menghalanginya dari menerima cahaya Matahari secara langsung.8 Adapun warna kemerahan yang magis pada puncak gerhana bukanlah pertanda buruk, melainkan sebuah proses fisika yang indah. Ia terjadi karena atmosfer Bumi membiaskan cahaya Matahari, menyaring spektrum cahaya biru dan meneruskan spektrum cahaya merah ke arah Bulan. Fenomena ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh, hukum fisika yang sama yang menyebabkan langit tampak biru di siang hari dan kemerahan saat senja.9

Kemampuan kita untuk memahami dan memprediksi fenomena ini dengan akurasi tinggi adalah sebuah anugerah ilmu pengetahuan. Namun, bagi seorang mukmin, keteraturan ini justru menjadi bukti kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an (I’jaz ‘Ilmi). Lebih dari 14 abad yang lalu, di tengah masyarakat yang belum mengenal teleskop atau kalkulasi orbit, Al-Qur’an telah mengisyaratkan fakta-fakta ini dengan bahasa yang sangat presisi. Perhatikanlah firman Allah dalam Surah Yasin:

Ayat 38:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِۗ

 

Ayat 39:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

Ayat 40:

لَا الشَّمْسُ يَنۢبَغِي لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَّسْبَحُونَ

Artinya: “(38) Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (39) Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (40) Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” 10

Demikian pula dalam Surah Al-Anbiya:

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Artinya: “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” 12

Dalam kedua ayat tersebut, Allah menggunakan kata falak (فَلَكٍ) yang berarti garis edar atau orbit, sebuah konsep yang sangat modern. Lebih menakjubkan lagi adalah penggunaan kata kerja yasbahun (يَسْبَحُوْنَ), yang secara harfiah berarti “mereka berenang”. Ini bukan sekadar metafora puitis. Kata ini menggambarkan sebuah gerakan yang teratur, dinamis, dan mengalir di dalam sebuah medium, bukan gerakan acak di ruang hampa. Benda-benda langit diibaratkan berenang di samudra kosmos, masing-masing di jalurnya, tanpa pernah bertabrakan, tunduk pada hukum yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Keteraturan inilah yang memungkinkan para ilmuwan, dengan izin Allah, menghitung dan memprediksi terjadinya gerhana.

Untuk mempersiapkan diri kita dalam menyambut tanda kebesaran ini, berikut adalah jadwal fase-fase utama Gerhana Bulan Total pada 7-8 September 2025 dalam Waktu Indonesia Barat (WIB).

Fase Waktu Mulai (WIB) Deskripsi Singkat
Gerhana Penumbra Mulai 07 Sep, 22:28 Bulan mulai masuk bayangan samar Bumi.
Gerhana Sebagian Mulai 07 Sep, 23:35 Piringan Bulan mulai tergigit bayangan inti Bumi.
Gerhana Total Dimulai 08 Sep, 01:11 Seluruh piringan Bulan masuk bayangan inti.
Puncak Gerhana Total 08 Sep, 01:52 Bulan berada di tengah bayangan, tampak paling gelap/merah.
Gerhana Total Berakhir 08 Sep, 02:33 Bulan mulai keluar dari bayangan inti.
Gerhana Sebagian Berakhir 08 Sep, 03:39 Seluruh piringan Bulan keluar dari bayangan inti.
Gerhana Penumbra Berakhir 08 Sep, 03:55 Gerhana selesai, Bulan kembali normal.

 

Bagian III: Sikap Seorang Mukmin: Mengikuti Teladan Rasulullah SAW

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mengetahui presisi ilmiah di balik gerhana tidak lantas mengurangi nilai spiritualnya. Justru sebaliknya, ia semakin mempertebal keyakinan kita. Lantas, bagaimana sikap yang seharusnya kita ambil sebagai seorang mukmin? Jawabannya telah diteladankan dengan sempurna oleh Rasulullah SAW.

Pada masa beliau, pernah terjadi gerhana matahari yang kebetulan bertepatan dengan hari wafatnya putra tercinta beliau, Ibrahim. Seketika, tersebarlah desas-desus di tengah masyarakat bahwa alam pun berduka atas kepergian putra sang Nabi. Ini adalah momen krusial di mana akidah umat diuji. Namun, Rasulullah SAW tidak membiarkan takhayul ini berkembang. Beliau segera naik ke mimbar dan meluruskan pemahaman umat dengan sabda beliau yang monumental, menegaskan bahwa gerhana bukanlah pertanda kelahiran atau kematian seseorang, melainkan murni tanda kebesaran Allah SWT.13

Setelah meluruskan akidah, beliau kemudian memberikan panduan praktis, sebuah “protokol spiritual” yang holistik untuk merespons fenomena ini. Protokol ini melibatkan seluruh dimensi kemanusiaan kita: dimensi fisik melalui shalat, dimensi lisan dan hati melalui zikir dan doa, serta dimensi sosial-ekonomi melalui sedekah. Beliau bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka banyaklah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, dirikan shalat dan bersedekahlah.” 13

Dalam riwayat lain dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah SAW memerintahkan:

كَسَفَتِ الشَّمْسُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَزِعًا، يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ، فَأَتَى الْمَسْجِدَ، فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ، وَقَالَ ‏”‏ هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ ‏”

“Pernah terjadi gerhana matahari, maka Nabi berdiri dengan terkejut, khawatir bahwa hari Kiamat telah tiba. Beliau pun mendatangi masjid, lalu salat dengan berdiri, rukuk, dan sujud yang paling panjang yang pernah aku lihat. Kemudian beliau bersabda: ‘Tanda-tanda kekuasaan ini Allah kirimkan bukan karena kematian atau kehidupan seseorang, akan tetapi Allah mengirimkannya untuk membuat takut (dan waspada) hamba-hamba-Nya. Maka jika kalian melihat sesuatu dari yang demikian itu (gerhana), segeralah untuk berzikir (mengingat)-Nya, berdoa kepada-Nya, dan memohon ampunan-Nya.‘”

Hadis ini berstatus sahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (hadis no. 1059) dan Imam Muslim (hadis no. 912). Hadis ini diterima dari sahabat Nabi, Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Perhatikanlah pilihan kata Nabi: faza’u (فَافْزَعُوا), yang berarti “segeralah berlindung” atau “bergegaslah”. Ini mengisyaratkan sebuah urgensi. Ketika tanda kebesaran Allah tampak begitu nyata, respons seorang hamba adalah segera kembali kepada-Nya. Nabi juga menjelaskan tujuan Allah menampakkan tanda ini dengan kalimat يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ (“Allah menakut-nakuti hamba-Nya dengannya”).13

Takhwif di sini bukanlah rasa takut yang negatif dan melumpuhkan, melainkan rasa gentar yang positif; sebuah kekaguman (awe) yang melahirkan kesadaran akan keagungan Sang Pencipta dan kehinaan diri, yang pada akhirnya mendorong kita untuk bersegera mencari keridhaan-Nya.

Bagian IV: Lima Mutiara Hikmah dari Khutbah Gerhana Rasulullah SAW

Hadirin sekalian,

Dalam khutbah yang beliau sampaikan saat terjadi gerhana, Rasulullah SAW tidak hanya memberikan instruksi ibadah, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan agung yang menjadi mutiara hikmah abadi. Pesan-pesan ini, jika kita renungkan, membentuk sebuah alur perjalanan spiritual yang menuntun kita dari realitas dunia saat ini menuju kesadaran akan kehidupan setelah mati. Mari kita tadabburi lima pesan utama tersebut 13:

Pertama, Penguatan Akidah Tauhid. Poin pertama dan utama adalah menegaskan bahwa gerhana merupakan demonstrasi visual dari kekuasaan mutlak Allah. Ia adalah bukti bahwa seluruh jagat raya, dari galaksi terjauh hingga bulan yang cahayanya meredup di hadapan kita, tunduk sepenuhnya pada perintah dan ketetapan-Nya. Ini adalah pelajaran untuk membersihkan hati dari segala bentuk kemusyrikan dan keyakinan pada kekuatan selain Allah.13

Kedua, Momentum Emas untuk Amal Saleh. Kegelapan sesaat yang menyelimuti bulan adalah pengingat simbolis akan kefanaan dunia dan kesementaraan hidup. Oleh karena itu, Nabi memerintahkan kita untuk bersegera mengisi momen berharga ini dengan amal-amal yang pahalanya kekal: shalat sebagai wujud ketundukan, zikir sebagai pengingat, istighfar sebagai pembersih jiwa, dan sedekah sebagai bukti kepedulian sosial.13

Ketiga, Peringatan Keras dari Dosa dan Maksiat. Secara sangat spesifik dan mengejutkan, dalam khutbah gerhananya, Rasulullah SAW mengangkat isu dosa besar, yaitu zina. Beliau bersabda: “Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, tidak ada yang melebihi kecemburuan Allah kecuali saat Dia melihat hamba laki-laki atau hamba perempuan-Nya berzina.”.13 Kaitan antara fenomena kosmik dengan moralitas manusia ini memberikan pesan yang kuat: jika alam semesta saja tunduk pada Allah, betapa hinanya manusia yang dengan sengaja membangkang dan melakukan maksiat di hadapan-Nya.

Keempat, Refleksi Kematian dan Fitnah Kubur. Rasulullah SAW secara eksplisit memerintahkan para sahabat untuk berlindung dari azab kubur saat gerhana.13 Kegelapan gerhana seolah menjadi analogi visual bagi kegelapan dan kesendirian di alam kubur. Ini adalah pengingat akan gerbang pertama kehidupan akhirat. Beliau bahkan menyampaikan wahyu yang diterimanya bahwa kita akan diuji di dalam kubur sebagaimana fitnah Dajjal, ditanya tentang kenabian beliau.13 Ini adalah panggilan untuk mempersiapkan jawaban terbaik kita kelak.

Kelima, Mengingat Kedahsyatan Hari Kiamat dan Hisab. Puncak dari perenungan ini adalah kesadaran akan akhirat. Nabi SAW bersabda, “Wahai ummat Muhammad! Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.”.13 Beliau juga mengabarkan bahwa dalam shalatnya, beliau diperlihatkan surga dan neraka. Gerhana adalah sebuah “gladi resik” kecil dari peristiwa hari kiamat, saat matahari digulung dan benda-benda langit tak lagi beraturan. Ia adalah peringatan agar kita tidak terlena oleh dunia dan selalu ingat akan adanya hari perhitungan.

Bagian V: Munajat di Kala Bulan Meredup: Doa dan Penutup

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sebagai penutup, marilah kita tegaskan kembali dalam sanubari kita bahwa gerhana bulan yang akan kita saksikan nanti bukanlah sekadar tontonan astronomi atau objek swafoto. Ia adalah sebuah undangan ilahiah. Undangan untuk tafakkur (merenung), tazakkur (mengingat), istighfar (memohon ampun), dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Untuk menyempurnakan ikhtiar kita dalam menyambut fenomena agung ini, marilah kita mempersiapkan diri dengan doa-doa yang diajarkan dan dianjurkan, yang relevan dengan pesan-pesan khutbah gerhana Rasulullah SAW. Berikut adalah beberapa doa yang dapat kita panjatkan:

  1. Doa Pujian dan Pengagungan Kebesaran Allah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا دَائِمًا طَاهِرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Catatan: Harakat pada kata مِلْءَ  (mil’a) diubah dari dhammah (u) menjadi fathah (a) karena kedudukannya sebagai objek (maf’ul bih) dari pujian tersebut, yang bermakna “(pujian yang) memenuhi…”.

Terjemahan

“Segala puji bagi Allah, pujian yang senantiasa abadi, suci, baik, dan diberkahi di dalamnya. (Pujian) yang memenuhi langit dan memenuhi bumi, memenuhi apa yang ada di antara keduanya, dan memenuhi apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu.”

 

Penjelasan

Kalimat pujian ini merupakan gabungan dari lafaz-lafaz zikir yang agung.

  • Bagian kedua dari doa ini, yaitu مِلْءَ السَّمَاوَاتِ…” (memenuhi langit…), merupakan bagian dari doa i’tidal (bangun dari rukuk) yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan terdapat dalam hadis sahih. Salah satunya diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 476) dari sahabat Ali bin Abi Thalib dan sahabat lainnya.
  • Bagian pertama, حَمْدًا دَائِمًا طَاهِرًا…” (pujian yang senantiasa abadi, suci…), adalah ungkapan pujian yang indah dan sering digunakan dalam doa dan zikir, yang menggabungkan sifat-sifat pujian terbaik kepada Allah SWT.

Secara keseluruhan, ini adalah bentuk pujian dan sanjungan kepada Allah yang sangat baik untuk dibaca dalam doa atau zikir.

 

  1. Doa Memohon Ampunan (Istighfar):

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Catatan: Harakat pada kata الله, العظيم, الحي, dan القيوم  adalah fathah (a) karena mengikuti kedudukannya sebagai objek dari kata kerja أستغفر  (aku memohon ampun).

Sumber dan Keutamaan

Lafaz istigfar ini berasal dari hadis Nabi Muhammad ﷺ yang memiliki keutamaan luar biasa.

Sumber dan Sanad: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (no. 1517) dan Imam at-Tirmidzi (no. 3577), dari sahabat Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dinilai sahih oleh banyak ulama, termasuk Syekh al-Albani.

Keutamaan: Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengucapkan (zikir di atas), maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun ia telah lari dari medan perang.” (Melarikan diri dari medan perang adalah salah satu dosa besar dalam Islam, yang menunjukkan betapa agungnya ampunan yang bisa didapat dengan membaca istigfar ini).

Terjemahan

“Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, Zat yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), dan aku bertaubat kepada-Nya.”

 

  1. Doa Perlindungan dari Azab Kubur (Sesuai Tema Khutbah Nabi):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari siksa neraka Jahannam, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.13

  1. Doa Sapu Jagat (Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat):

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.14

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberimu pengajaran agar kamu dapat mengambil pelajaran.”


File Naskah Khutbah Gerhana: DOWNLOAD


Naskah Khutbah Gerhana Bulan 2025


Karya yang dikutip

  1. AL-QUR’AN DAN ASTRONOMI – Falakiyah Madani, diakses September 4, 2025, https://falakiyahmadani.co.id/al-quran-dan-astronomi/
  2. Gerhana bulan September 2025 – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses September 4, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana_bulan_September_2025
  3. Gerhana Bulan Total 7 September 2025 – Hilal dan Gerhana – BMKG, diakses September 4, 2025, https://www.bmkg.go.id/tanda-waktu/hilal-gerhana/gerhana-bulan-total-7-september-2025
  4. Gerhana Bulan Total di RI 7 September 2025, Begini Cara Lihat Langsung, diakses September 4, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/tech/20250903152821-37-663985/gerhana-bulan-total-di-ri-7-september-2025-begini-cara-lihat-langsung
  5. Gerhana Bulan Total 7 September di Indonesia, Ini Jadwalnya, diakses September 4, 2025, https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20250902071135-199-1269081/gerhana-bulan-total-7-september-di-indonesia-ini-jadwalnya
  6. Pengertian dan Proses Terjadinya Gerhana Bulan – Sampoerna Academy, diakses September 4, 2025, https://www.sampoernaacademy.sch.id/id/news/gerhana-bulan-adalah
  7. Bagaimana Proses Terjadinya Gerhana Bulan Total? – KOMPAS.com, diakses September 4, 2025, https://www.kompas.com/sains/read/2021/05/22/170200423/bagaimana-proses-terjadinya-gerhana-bulan-total?page=all
  8. Proses Terjadinya Gerhana Bulan dan Jenisnya, Saat Langit jadi Redup – detikcom, diakses September 4, 2025, https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6916501/proses-terjadinya-gerhana-bulan-dan-jenisnya-saat-langit-jadi-redup
  9. Proses Terjadinya Gerhana Bulan – Gramedia Literasi, diakses September 4, 2025, https://www.gramedia.com/literasi/proses-terjadinya-gerhana-bulan/
  10. Surat Yasin Ayat 38 Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir | Baca di TafsirWeb, diakses September 4, 2025, https://tafsirweb.com/7994-surat-yasin-ayat-38.html
  11. Surat Yasin Ayat 40 Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir | Baca di TafsirWeb, diakses September 4, 2025, https://tafsirweb.com/7996-surat-yasin-ayat-40.html
  12. Surat Al-Anbiya Ayat 33 Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir | Baca di …, diakses September 4, 2025, https://tafsirweb.com/5545-surat-al-anbiya-ayat-33.html
  13. Fiqih Shalat Gerhana Matahari (Isnan Ansory. Lc., M.Ag) (Z-Library).pdf
  14. [Khutbah Shalat Gerhana] “Pelajaran Akidah dan Ibadah dari …, diakses September 4, 2025, https://tarjih.or.id/khutbah-shalat-gerhana-pelajaran-akidah-dan-ibadah-dari-gerhana-matahari/
  15. Dzikir dan Doa Gerhana Bulan yang Dianjurkan: Arab, Latin serta Artinya – detikcom, diakses September 4, 2025, https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-7823223/dzikir-dan-doa-gerhana-bulan-yang-dianjurkan-arab-latin-serta-artinya
  16. 6 Bacaan Doa Saat Gerhana Bulan Arab, Latin, dan Artinya – Hot Liputan6.com, diakses September 4, 2025, https://www.liputan6.com/hot/read/5116454/6-bacaan-doa-saat-gerhana-bulan-arab-latin-dan-artinya
  17. Khutbah Salat Gerhana: Gerhana Bulan, Tanda Kebesaran Allah – Kementerian Agama RI, diakses September 4, 2025, https://kemenag.go.id/islam/khutbah-salat-gerhana-gerhana-bulan-tanda-kebesaran-allah-k6lgix
  18. Siap-Siap Fenomena Blood Moon Pada 7 September 2025, Bisa Diamati dari Indonesia, diakses September 4, 2025, https://balinews.id/siap-siap-fenomena-blood-moon-pada-7-september-2025-bisa-diamati-dari-indonesia/

Kasmui

Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button