Artikel

Pendidikan Fitrah Pasca Ramadhan

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag, M.Pd/ Ka. SMP AT TIN UMP

Ramadan telah berlalu, meninggalkan jejak kesadaran yang dalam di hati umat Islam. Setelah perjalanan panjang menelusuri bulan suci penuh berkah itu, kita kini berdiri di ambang baru, siap terlahir kembali sebagai manusia yang lebih baik.

Dalam serangkaian ibadah dan refleksi, kita diingatkan akan esensi Islam yang tak pernah berhenti memperbaiki dan membentuk umatnya agar selalu dekat dengan fitrah manusia.

Manusia Fitrah, konsep yang tak hanya menjadi sebuah slogan, tetapi juga panggilan untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran akan ketauhidan dan ketakwaan. Seiring berjalannya waktu, pemahaman dan amalan akan keimanan serta ketakwaan itu sendiri menjadi penanda bagi seorang manusia baru yang unggul dan terpilih.

Sebuah proses pendidikan fitrah yang dimulai dari keluarga, menjadi pondasi utama dalam pembentukan manusia yang sesuai dengan fitrahnya. Pertama-tama, dalam tahap awal ini, keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan tauhid yang murni.

Seperti yang diajarkan oleh Luqman kepada anaknya, larangan terhadap perbuatan syirik menjadi pesan yang pertama disampaikan. Karena dalam memahami dan mengamalkan tauhid, seseorang akan menemukan dasar yang kokoh dalam keimanan.

Kemudian, pentingnya dakwah dengan amar ma’ruf nahi munkar menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan fitrah. Selain mendirikan shalat, manusia baru yang terlahir dari proses pendidikan ini juga diajarkan untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pesan ini tidak hanya terdengar dalam ayat-ayat suci al-Qur’an, tetapi juga tercermin dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah menjadi landasan dalam membentuk keluarga yang harmonis. Di dalam keluarga yang dipenuhi dengan kasih sayang dan kedamaian inilah, manusia baru dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Peran ayah dan ibu dalam memberikan pengasuhan yang baik sangatlah penting, karena mereka adalah teladan pertama bagi anak-anak dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai tersebut.

Tantangan pemikiran zaman terkini juga menjadi fokus dalam pendidikan fitrah. Orang tua perlu menjadi peka terhadap serangan-serangan pemikiran yang bersifat destruktif terhadap aqidah dan akhlak Islam. Dalam menghadapi fenomena seperti pluralisme agama, relativisme, dan materialisme, kesadaran akan pentingnya melindungi iman dan nilai-nilai Islam menjadi semakin mendesak.

Terakhir, mengenalkan sejarah Islam kepada keluarga menjadi langkah penting dalam memperkuat pondasi pendidikan fitrah. Dengan memahami sejarah umat manusia, terutama sejarah Nabi Muhammad SAW, anak-anak akan lebih memahami akar dan tujuan, arah dalam kehidupan ini sekaligus menumbuhkan rasa cinta serta pola kehidupan yang ideal.

Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, diharapkan umat Islam dapat terus menjalani perjalanan menuju kesempurnaan fitrah manusia. Ramadan bukanlah sekadar bulan berpuasa dan merayakan Idul Fitri, tetapi juga momentum untuk terus mengembangkan diri menuju manusia yang lebih baik, lebih sadar, dan lebih dekat dengan Sang Pencipta. Semoga setiap langkah dalam proses pendidikan fitrah ini membawa umat Islam menuju kepada masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button